Amerika Serikat sebelumnya memperketat pembatasan terhadap pengembangan drone dan pesawat listrik canggih di dalam negeri. Untuk mematuhi ketentuan tersebut, perusahaan baterai Amerika kini mulai memindahkan rantai pasok mereka dari Tiongkok ke Korea Selatan. Para pakar menilai, langkah ini jelas merupakan pemutusan keterkaitan (decoupling) secara paksa yang didorong oleh kebijakan, dengan dampak nyata yang sangat kuat.
EtIndonesia. Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional AS (National Defense Authorization Act/NDAA) menetapkan bahwa mulai Oktober 2027, Departemen Pertahanan AS akan melarang pembelian baterai buatan Tiongkok.
Berdasarkan hal ini, media Nikkei Asia melaporkan bahwa dua produsen baterai canggih AS, SES AI dan Amprius Technologies, telah mengumumkan akan memindahkan fokus produksi mereka keluar dari Tiongkok dan memperluas kapasitas produksi baterai di Korea Selatan.
“Ini jelas merupakan pemutusan keterkaitan secara paksa yang didorong oleh kebijakan. Dampaknya sangat nyata. Demi mempertahankan Departemen Pertahanan AS sebagai klien besar, perusahaan-perusahaan Amerika ini harus sepenuhnya membersihkan unsur Tiongkok dari rantai pasok mereka sebelum larangan tersebut mulai berlaku,” ujar peneliti madya Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Hsieh Pei-hsueh.
Presiden AS Donald Trump juga menandatangani sebuah perintah eksekutif pada Juli tahun lalu, yang mewajibkan lembaga federal mempercepat proses persetujuan bagi produsen drone AS, serta melindungi rantai pasok drone Amerika dari “pengaruh asing”.
“Karena baterai adalah jantung dari drone dan pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL), maka pemindahannya keluar dari Tiongkok menunjukkan bahwa perusahaan Amerika menilai produksi bahan baku atau komponen kunci di Tiongkok—terutama yang melibatkan teknologi militer—mengandung risiko politik dan keamanan yang tidak dapat dikendalikan,” tambah Hsieh Pei-hsueh.
Profesor bidang studi internasional Universitas St. Thomas di AS, Ye Yaoyuan, mengatakan bahwa produsen baterai terbesar di dunia adalah Tiongkok. Jika sekarang bahkan sektor baterai—di mana Tiongkok memiliki dominasi besar dan bahkan keunggulan harga global—tetap bersedia dipindahkan oleh perusahaan Amerika Serikat. Hal demikian, kata dia, menunjukkan bahwa sebenarnya semua hal bisa dibicarakan dan semua bisa diputus.
“Pemutusan keterkaitan ini hanyalah soal waktu. Sekitar tahun 2028 atau 2029, Anda akan melihat bahwa persaingan AS–Tiongkok saat ini adalah bentuk Perang Dingin baru, dan perang dingin ini akan terlihat sangat jelas dalam seluruh rantai pasok global,” lanjutnya.
Para analis menilai, hal ini menunjukkan bahwa biaya rendah tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Rantai pasok di masa depan akan semakin dibangun di antara negara-negara yang memiliki nilai yang sama atau merupakan sekutu militer, yang mana akan memberikan dampak langsung terhadap industri manufaktur berteknologi tinggi milik Partai Komunis Tiongkok (PKT).
“Langkah ini akan menimbulkan efek demonstratif dalam rantai industri. Tindakan kedua perusahaan ini mengirimkan sinyal bahwa produsen lain—terutama perusahaan Amerika—akan mengalami efek gentar, sehingga pemasok yang ingin mendapatkan kontrak pertahanan AS atau Barat akan ikut bergerak, mempercepat pemindahan lini produksi mereka keluar dari Tiongkok,” kata Hsieh Pei-hsueh.
“Selain itu, hal ini akan semakin memperdalam pemisahan antara Tiongkok dan Barat di bidang teknologi kunci. Ke depan, perusahaan Tiongkok akan semakin sulit memasuki pasar pertahanan AS dan industri kedirgantaraan kelas atas, sehingga pangsa pasar mereka akan direbut oleh pesaing lain seperti Korea Selatan,” tambahnya.
Reporter New Tang Dynasty Television: Yi Jing dan Chang Chun, laporan wawancara




