Begini Cara BI Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bank sentral akan terus menggencarkan kebijakan Local Currency Transaction (LCT).

Begini Cara BI Stabilkan Nilai Tukar Rupiah (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mulai memasifkan kebijakan penggunaan mata uang asing selain dolar Amerika Serikat. 

Kebijakan ini digadang-gadang sebagai alternatif menstabilkan nilai rupiah terhadap dolar.

Baca Juga:
Jalan Macet Akibat Genangan Air, TransJakarta Lakukan Penyesuaian Rute

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan terus menggencarkan kebijakan Local Currency Transaction (LCT).

"Jadi kalau saya importir barang dari China sana, maka saya bayarnya instead pakai dolar saya bisa pakai rupiah, nanti di sana terima juga rupiah. Sebaliknya mereka nanti kalau dia apa namanya, dia juga bisa menggunakan dengan China ya dengan Renminbi. Nah inilah terus kami dorong," kata Destry dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga:
Istana Beberkan Penyebab Banjir Jabodetabek: Dulu Punya 1.000 Situ, Sekarang Sisa 200

Perkembangan LCT sebagai mekanisme transaksi perdagangan internasional tidak bisa dipandang sebelah mata, meski belum tetap bisa menandingi superioritas dolar.

Transaksi melalui LCT mencapai USD25 miliar per tahun. Jumlah ini naik dua kali lipat dari periode sebelumnya.

"Nah inilah sebenarnya salah satu upaya kami untuk mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar. Tapi tentu konsekuensinya Bank Indonesia harus bisa nih provide apakah itu Renminbi atau itu Yen. Jadi ini yang salah satu upaya yang kita lakukan dalam rangka untuk stabilitas nilai tukar kita," kata dia.

Beberapa waktu belakang, nilai tukar rupiah tertekan terhadap dolar AS. Puncaknya, pada perdagangan Selasa (20/1/2025) rupiah nyaris menyentuh level Rp17 ribu per USD. Terkini, kurs rupiah di pasar spot menguat 0,24 persen ke angka Rp16.895 per dolar AS per Kamis (22/1).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pelemahan nilai tukar turut dipengaruhi faktor global. Ini berkaitan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.

"Faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," kata dia.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kisah Penjahit Pasar Terban Yogya Menjaga Hidup Tetap Berjalan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Get The Look: Tampil Chic dan Playful ala Lara Bussmann
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Liverpool curi poin penuh di kandang Marseille dengan kemenangan 3-0
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Jawa Timur Berpotensi Dilanda Hujan Petir Sepanjang Hari
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pati dan Madiun Tanpa Pemimpin Pasca OTT KPK, Kemendagri Ambil Langkah Darurat
• 19 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.