Pariman (56 tahun) sedang duduk menanti pelanggannya di los Pasar Terban, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1). Baru dua hari ini dia pindah dari lapak di Jalan Dr Sardjito ke Pasar Terban.
Pariman adalah sedikit dari puluhan penyedia jasa yang sudah pindah ke Pasar Terban. Dari 74-an lapak mungkin baru 25 persen yang pindah.
"Relokasi mulai tanggal 15 Januari. Kalau saya baru dua hari ini. Karena kan mikir mikirnya pindah enggak langsung ada orang (pelanggan)," kata Pariman.
Teman-temannya yang sudah lebih dahulu pindah pun menurut Pariman juga belum banyak pelanggannya yang datang.
Pariman mengaku sudah hampir 30 tahun menjual jasa permak tas di Jalan Dr Sardjito. Ketika diminta pindah, sebenarnya ada rasa keberatan. Namun, Pariman sadar selama ini dia mencari rizki di tempat yang kurang tepat.
"Karena prosedur dari pemerintah harus harus relokasi ya mengikuti saja. Kan di sana juga bukan milik kita itu tempatnya kan milik pemerintah. Jadi kalau direlokasi dipindah ya ngikut saja," bebernya.
Berpuluh tahun di sana, Pariman sudah punya banyak pelanggan. Bahkan dari luar kota seperti Temanggung, Semarang, Solo, dan Purworejo. Dahulu, lantaran lokasi di pinggir jalan persis banyak orang yang jadi tahu.
Ada harapan dari Pariman agar Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogya) menggencarkan promosi. Sehingga Pasar Terban bisa dikenal sebagai sentra penjahit dan permak tas.
"Iklan ya itu harapannya nanti diiklankan ke mana-mana. Banyak yang tahu jadi pengunjung ramai. Terus mungkin ya di sini juga ikut ramai," jelasnya.
Salah seorang penjahit, Mujono (55 tahun), mengatakan pelanggannya sudah mulai berdatangan ke Pasar Terban.
Sebelum pindah, dia sudah memberikan pengumuman ke para pelanggan.
"Di sana (tempat lama) ada tulisan, pindah sini pada tahu," kata Mujono.
Mujono mengaku baru lima tahun di Jalan Dr Sardjito. Namun pelanggannya langsung banyak.
"(Pelanggan) dosen, mahasiswa, dokter juga ada. Ada yang bikin (pakaian) baru (tidak hanya permak)," bebernya.
Di sisi lain, dia memberi masukan ke Pemkot Yogyakarta soal bau yang cukup menganggu.
"Ini bau, yang belakang untuk ayam," katanya.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan Pasar Terban saat ini statusnya belum diserahkan ke Kota Yogyakarta. Saat ini statusnya masih uji coba.
"Satu-satunya pasar di Yogyakarta yang punya rumah potong hewan (RPH), Pasar Terban. Nggak ada pasar lain yang mempunyai RPH. Lha makanya bagaimana mengintegrasikan antara RPH dengan pasar," kata Hasto di Kepatihan Pemda DIY.
"Kemarin masih dikeluhkan, saya sampaikan ke yang mengerjakan ini masih dikeluhkan. Kemudian ditindaklanjuti dengan memodifikasi bangunan itu. Kita coba lagi lah nanti masih bau nggak dari lantai atas," ujarnya.
Hasto juga menanggapi soal usulan penjahit agar los dimodifikasi agar lebih mudah.
"Saya tahu bahwa tempatnya minta dijebloske untuk mesin jahitnya bisa turun. Cuma itu kemarin saya bilang coba kan sekarang banyak mesin jahit yang tidak jebloskan ke bawah banyak mesin jahit yang di atas saja semua pakai tangan tidak pakai kaki. Harganya pun juga tidak mahal," katanya.




