Green Financing, BI: Risiko Perubahan Iklim Berpotensi Dorong Inflasi

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Bank Indonesia (BI) menilai perubahan iklim berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi dan risiko serius bagi stabilitas ekonomi nasional. Dampak bencana alam yang sering terjadi dinilai dapat mengganggu sektor produksi hingga distribusi, sehingga mendorong kenaikan harga. 

Hal tersebut disampaikan Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI, Kurniawan Agung dalam Diskusi Panel Sesi 3 Green Financing pada Metro TV Green Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.

Kurniawan menjelaskan, posisi geografis Indonesia sebagai negara maritim membuat risiko perubahan iklim menjadi lebih tinggi dibandingkan negara lain. Risiko tersebut tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional, baik dari sisi risiko fisik maupun risiko transisi.

“Kenapa BI concern dengan keuangan berkelanjutan ini? Yang pertama memang karena negara kita ini negara maritim, dimana berdasarkan hasil penelitian berbagai institusi termasuk juga Bappenas, negara maritim itu memiliki resiko terhadap perubahan iklim yang lebih tinggi. Dan itu kaitannya juga ada resiko fisik dan resiko transisi," kata Kurniawan.

Baca Juga :

Panas Bumi Mahal dan Berisiko, Negara Diminta Berbagi Beban
Kurniawan mengungkapkan, risiko fisik perubahan iklim telah nyata dirasakan melalui berbagai bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia. Dampak bencana tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga mengganggu sektor pertanian dan perikanan, yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan nasional. 

Menurut dia, gangguan produksi dan distribusi tersebut pada akhirnya mendorong peningkatan harga di tingkat konsumen.

“Tentunya bencana alam ini menyebabkan adanya dampak kepada sektor kepertanian. Mengganggu pertanian, mengganggu perikanan, juga menaikkan biaya distribusi, dan tentunya ujungnya adalah peningkatan harga.” ungkap Kurniawan.

Metro TV Green Summit 2026. Foto: Metro TV.

Selain risiko fisik, BI menyoroti risiko transisi yang dapat muncul apabila peralihan menuju ekonomi hijau dilakukan secara rigid. Transisi yang tidak terkelola dinilai berpotensi menimbulkan aset terbengkalai (stranded asset), meningkatkan biaya pembiayaan, serta menurunkan minat lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit.

Untuk itu, BI mendorong penerapan green financing secara bertahap melalui berbagai kebijakan, termasuk insentif likuiditas makroprudensial. Sehingga, transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat berjalan seimbang tanpa mengganggu stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arcandra Hadir Jadi Saksi Sidang Kasus Tata Kelola Minyak, Jonan Absen
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Temukan Titik Terang, Trump Sinyal Kesepakatan Damai Ukraina-Rusia
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono: Rute Transjabodetabek Blok M-Soetta tak Hapus Trayek Eksisting Damri
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Lawan "Chocflation", Startup Singapura Ciptakan Bubuk Cokelat Tanpa Biji Kakao
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
20 Tahun Ngong Ping 360: Sensasi Kereta Gantung Malam Hingga Promo Eksklusif Wisatawan Indonesia 
• 21 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.