Bisnis.com, JAKARTA — Tingginya biaya tenaga kerja di kawasan Jawa bagian barat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong industri padat karya melakukan relokasi pabrik ke wilayah dengan struktur upah yang lebih rendah.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan, relokasi industri dari Jawa Barat ke wilayah lain sebenarnya telah berlangsung sejak lebih dari 1 dekade lalu. Sejumlah pabrik mulai memindahkan basis produksinya ke Jawa Tengah, yang dinilai menawarkan biaya produksi lebih kompetitif.
“Sebetulnya proses relokasi industri dari Jawa Barat ke luar Jawa Barat itu sudah terjadi, bahkan sudah agak lama. Saya ingat di 2015, itu sudah ada sejumlah industri yang pindah, terutama ke Jawa Tengah,” ujar Faisal kepada Bisnis, Kamis (22/1/2026).
Selain berpindah antarprovinsi, sebagian industri juga memilih relokasi di dalam wilayah Jawa Barat dengan mempertimbangkan perbedaan tingkat upah antar kabupaten. Sejumlah pabrik yang sebelumnya beroperasi di kawasan Bandung, Bogor, dan sekitarnya, mulai bergeser ke wilayah seperti Majalengka dan Sukabumi.
Faisal menjelaskan, langkah tersebut ditempuh untuk menjaga daya saing usaha di tengah kenaikan upah buruh yang terus terjadi di kawasan industri lama. Industri elektronika penunjang, termasuk produsen aksesori ponsel, menjadi salah satu sektor yang melakukan strategi serupa.
“Sebagian juga ada dari wilayah Bandung, masih di Jawa Barat tapi pindahnya misalnya ke Majalengka yang upahnya lebih rendah. Atau industri elektronika yang tadinya di Kabupaten Bogor kemudian pindah lebih jauh ke Kabupaten Sukabumi,” tuturnya.
Baca Juga
- Buruh Prediksi Gelombang Relokasi Pabrik Berlanjut di 2026, Ini Pemicunya
- Investor Ramai-Ramai Relokasi Pabrik, Cek Daftar UMK Jateng 2025
- Apindo Beberkan Alasan Perusahaan Ramai-Ramai Relokasi Pabrik ke Jateng
Menurut Faisal, tekanan kenaikan upah menjadi semakin berat ketika industri harus melakukan investasi baru, terutama penggantian mesin produksi. Banyak pabrik tekstil di Jawa Barat telah beroperasi lebih dari 30 tahun sehingga membutuhkan peremajaan fasilitas agar tetap efisien.
Dalam kondisi tersebut, relokasi ke daerah berupah lebih rendah dipandang sebagai cara untuk menekan biaya sekaligus mempertahankan keberlanjutan usaha. Langkah ini dinilai lebih rasional bagi industri yang produknya ditujukan untuk pasar domestik.
“Nah, sasaran relokasi terbanyak itu yang saya lihat masih Jawa Tengah karena di tingkat kabupaten upah terendah se-Indonesia itu ada di Jawa Tengah, sementara yang tertinggi justru ada di wilayah Jabodetabek,” jelasnya.
Meski faktor upah menjadi pendorong utama, Faisal menegaskan bahwa keputusan relokasi juga mempertimbangkan kesiapan infrastruktur di daerah tujuan.
Ketersediaan air, pasokan listrik yang memadai, serta akses jalan dan pelabuhan menjadi faktor penting bagi kelangsungan produksi. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, keuntungan dari upah yang lebih rendah tidak akan optimal.
“Industri juga melihat apakah di daerah yang baru tersebut infrastrukturnya mendukung, terutama air, listrik, dan akses ke jalan tol atau pelabuhan,” pungkasnya.




