Kasihan…, Murid di Daerah Ini Belajar di Terminal

harianfajar
12 jam lalu
Cover Berita

PINRANG, FAJAR – Proyek renovasi SDN 24 Pinrang mulur. Para murid terpaksa belajar di terminal.

PENGERJAAN ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) 24 Pinrang itu menelan anggaran Rp1,2 miliar. Kejaksaan Negeri (Kejari) Pinrang kini memantau pengerjaannya akibat menyeberang tahun.

“Nanti kita coba klarifikasi. Kami lakukan telaah dulu,” ujar Kasipidsus Kejari Pinrang Akbar Wahid kepada FAJAR, Kamis, 22 Januari 2026.

Aparat hukum akan menindaklanjuti masalah keterlambatan penuntasan proyek yang seharusnya telah bisa dipakai untuk belajar mengajar. “Pastinya saya tindak lanjuti permasalahan yang terjadi,” tegasnya.

Efek mulurnya proyek ini, murid masih melakukan proses belajar mengajar di Terminal Paleteang, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang.

Diketahui, pembangunan gedung sekolah itu ditargetkan rampung pada Desember 2025. Namun, hingga akhir Januari 2026 ini, pekerjaan belum selesai sehingga sekolah harus mencari alternatif ruang belajar darurat.

Dalam papan informasi, proyek dikerjakan oleh CV Arya Putra dengan nama pekerjaan Rehabilitasi Ruang Kelas SDN 24 Paleteang (DAU Perubahan).

Pantauan FAJAR, area terminal disulap menjadi ruang kelas sementara. Kain biru dipasang sebagai sekat antarkelas, sementara papan tulis disandarkan pada tiang besi terminal.

Harapan Guru

Kepala UPT SD Negeri 24 Pinrang, Waliana, berharap pengerjaan gedung sekolah segera selesai agar murid dapat kembali beraktivitas di sekolah. Apalagi, sesuai perencanaan awal, tahun lalu sudah rampung.

“Mungkin terlambat, semoga cepat selesai gedung biar bisa kembali lagi ke kelas belajar,” harap Waliana.

“Sebenarnya beberapa kelas sudah selesai renov, cuma masih banyak material, bahaya juga. Tapi ini sudah persetujuan orang tua murid juga karena dinilai dekat,” ungkapnya.

Sebanyak 11 kelas dijadikan kelas darurat di Terminal Penumpang Paleteang. Pihaknya pun sudah mengantisipasi agar mobil-mobil penumpang tidak mendekati murid saat beraktivitas di area terminal.

“Ada 11 rombel atau kelas di sini. Untuk aktivitas mobil penumpang kami sudah antisipasi, guru-guru selalu mengawasi anak-anak saat beraktivitas,” ucapnya.

Mahasiswa asal Pinrang, Muh Reski menilai keterlambatan proyek senilai Rp1,2 miliar itu mencederai hak dasar murid dan mencoreng wajah pendidikan di daerah. Terminal tidak layak sebagai tempat menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM).

Situasi ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap proyek pendidikan. “Ini sangat memprihatinkan. Anak-anak seharusnya belajar di ruang kelas yang aman dan layak, bukan di terminal,” tegas mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini.

Proyek yang seharusnya rampung pada Desember 2025 itu semestinya menjadi prioritas karena menyangkut masa depan generasi muda. Keterlambatan pengerjaan dinilai berdampak langsung pada kualitas dan keselamatan siswa.

“Anggarannya tidak kecil, Rp1,2 miliar. Tapi hasilnya justru anak-anak belajar di ruang publik yang rawan. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan aparat penegak hukum,” lanjutnya. (ams/zuk)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono dan Wamen PU Tinjau Cengkareng Drain
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Putusan Sela Kasus Demo Agustus 2025, Hakim PN Jakpus Bebaskan Mahasiswa Khariq Anhar dari Tahanan 
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Prabowo Pamer Kondisi Ekonomi RI di WEF: Tumbuh Stabil 5%, Inflasi Terkendali
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
IBFEST Series 10 Hadir di 4 Kota, Telkomsel Cerahkan Literasi AI Generasi Muda
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
WEF 2026, Presiden Prabowo Kenalkan Kelas Digital
• 21 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.