Bisnis.com, JAKARTA — Haleon Indonesia, produsen di balik merek kesehatan seperti Panadol dan Sensodyne Actifed, kembali mengadopsi energi terbarukan dalam operasional manufakturnya melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di fasilitas produksi Pulo Gadung, Jakarta Timur pada Kamis (22/1/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menekan emisi dan meningkatkan efisiensi energi di sektor industri kesehatan konsumen.
PLTS atap tersebut terpasang di area seluas 2.382 meter persegi dengan 678 panel surya monocrystalline dan kapasitas terpasang sebesar 416,97 kilowatt peak (kWp). Sistem ini diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 577.647 kilowatt hour (kWh) listrik per tahun atau setara dengan sekitar 15% dari total kebutuhan energi pabrik.
Manajemen Haleon menyebut penggunaan energi surya ini akan menurunkan emisi karbon fasilitas manufaktur hingga sekitar 449 ton CO₂ per tahun. Implementasi PLTS juga melengkapi upaya efisiensi energi yang telah dilakukan perusahaan sejak 2023, dengan pemanfaatan energi terbarukan tercatat mencapai 7.368 megawatt hour (MWh).
“Sebagai sektor yang berperan langsung dalam menjaga kesehatan masyarakat sehari-hari, industri consumer health tentu memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan ketersediaan produk yang aman, bermutu, serta berkelanjutan,” kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, yang turut hadir dalam peresmian PLTS tersebut, dikutip Jumat (23/1/2026).
PLTS atap di pabrik Pulo Gadung dilengkapi dengan inverter pintar serta sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan distribusi dan konsumsi energi secara real time. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau kinerja energi sekaligus menekan potensi pemborosan dalam proses produksi.
PLTS atap ini juga memanfaatkan modul AR Coated Heat Strengthened Glass yang mampu menangkap cahaya matahari dari kedua sisi panel sehingga menghasilkan output energi hingga 4% lebih tinggi dibandingkan panel monofacial konvensional.
Baca Juga
- Bahlil Kaji Ulang Pencabutan Izin PLTA Batang Toru
- Energi Angin dan Surya Dominasi Pasokan Listrik Uni Eropa pada 2025, Geser Fosil
- Danantara Utamakan Tata Kelola Proyek PSEL
Presiden Direktur Haleon Indonesia Dhanica Dumo Mae-Tiu mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik manufaktur yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, integrasi energi bersih dalam operasional pabrik diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan bisnis sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
“Kami ingin masyarakat Indonesia yang mengandalkan produk kami setiap hari merasakan manfaat tidak hanya dari efektivitas produk, tetapi juga dari praktik produksi yang bertanggung jawab di baliknya,” katanya.
Pabrik Haleon Indonesia di Pulo Gadung telah beroperasi sejak 1994 dan memproduksi berbagai produk kesehatan konsumen untuk pasar domestik dan kawasan Asia Tenggara. Selain penggunaan energi terbarukan, fasilitas ini juga menerapkan sejumlah inisiatif efisiensi sumber daya dan pengelolaan limbah.
Adopsi PLTS atap tersebut sejalan dengan target global Haleon untuk mencapai nol emisi karbon bersih pada 2040, serta mendukung kebijakan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan dalam sistem energi nasional.




