jpnn.com - Analis politik Hendri Satrio atau Hensa menilai Danantara masih menghadapi beberapa tantangan setelah terbentuk, yakni komunikasi publik dan kebijakan pengelolaan aset
Menurut dia, persoalan komunikasi menjadi krusial karena berkaitan langsung dengan penerimaan dan kepercayaan masyarakat.
BACA JUGA: Eks Gubernur Sultra Nur Alam Vs Satpol PP, Sempat Ricuh
"Jika tidak dikomunikasikan dengan baik, Danantara akan dianggap sebagai instrumen sentralisasi dan elitisme politik," ujar Hensa kepada awak media, Jumat (23/1).
Hensa mengatakan komunikasi tersebut harus menjawab kekhawatiran daerah, membangun harapan realistis, dan membuka ruang dialog.
BACA JUGA: Konon Tarif Jabatan Perangkat Desa di Pati yang Dipatok Sudewo Dinaikkan Pengepul, Alamak
Menurutnya, publik butuh narasi keadilan dan bukti konkret agar mereka memahami arah kebijakan Danantara secara realistis.
"Menurut saya publik butuh narasi keadilan dan bukti konkret, bukan hanya janji dan jargon untuk menjawab kekhawatiran serta membangun harapan yang realistis, dan membuka ruang dialog buat masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: Pemindahan ASN ke IKN Kian Matang, Ada Peran Mas Gibran
Dari aspek pengelolaan aset, Hensa menyoroti sisi investasi Danantara bisa dirasakan daerah, terutama dalam bentuk akses ekonomi, infrastruktur, dan lapangan kerja.
Terlebih lagi, ujar dia, beberapa daerah saat ini banyak bergantung dari transfer pusat untuk pengampunan infrastruktur dasar.
"Bagaimana menjamin bahwa manfaat dari investasi nasional melalui Danantara dapat dirasakan secara merata oleh daerah, terutama dalam bentuk akses fiskal, infrastruktur, dan lapangan kerja,” ujar Hensa.
Menurutnya, tanpa mekanisme distribusi yang adil, Danantara justru berpotensi memperlebar kesenjangan antarwilayah.
Dia mencontohkan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur memiliki banyak BUMN, sementara daerah lain belum tentu memperoleh efek ekonomi yang sama kuatnya.
“Danantara berpotensi memperbesar ketimpangan antarwilayah. Misalnya, Jawa Barat mungkin punya banyak BUMN yang berpusat di sana. Jawa Tengah, Jawa Timur mungkin banyak BUMN yang ada di sana. Bagaimana dengan daerah-daerah lain? Nah ini musti juga dipikirkan,” ujar Hensa.
Namun, dia menyebut Danantara tetap memiliki potensi besar sebagai salah satu keajaiban ekonomi Indonesia, sejalan dengan ambisi pemerintahan Prabowo Subianto untuk memperkuat pembangunan nasional melalui instrumen investasi.
“Danantara ini kita tunggu sebagai salah satu keajaiban ekonomi di Indonesia, tetapi hingga saat ini memang kelihatannya dengan perbaikan-perbaikan yang ingin dilakukan oleh Pak Prabowo, Danantara justru mengalami tantangan sendiri di internal. Semoga berhasil cita-citanya,” ujar Hensa. (ast/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Aristo Setiawan




