Benarkah Anak Jadi Hiperaktif saat Terlalu Banyak Konsumsi Gula?

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Anak-anak begitu menyukai makanan manis, makanya terkadang ia bisa merengek ketika tidak diberikan beberapa makanan seperti cokelat, permen, atau pun es krim. Meski boleh-boleh saja anak konsumsi makanan manis, tetapi pemberiannya juga perlu dibatasi agar tidak memicu masalah kesehatan.

Salah satu kabar yang sering beredar adalah terlalu banyak konsumsi gula bisa memicu anak sangat aktif. Benar enggak sih?

Menurut dokter spesialis anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, anggapan anak jadi sangat aktif setelah konsumsi makanan dan minuman manis, atau dikenal juga dengan istilah sugar rush, itu hanya mitos, Moms.

dr. Aisya menjelaskan, sugar rush adalah kondisi yang dipercaya dapat membuat seseorang menjadi hiperaktif setelah menyantap gula dalam jumlah banyak.

Faktanya, sugar rush bisa menjadi lonjakan energi yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif adalah tidak terbukti secara ilmiah. Gula memang merupakan sumber energi, tetapi tidak bekerja secara instan, sehingga disebut anak menjadi meledak-meledak seperti yang kita bayangkan," ucap dr. Aisya kepada kumparanMOM.

Jika Anda sering melihat efek yang terjadi setelah anak makan makanan manis sebenarnya dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya:

"Ini bagian pentingnya. Bukan karena anak hiperaktif hari ini, tetapi adalah masalah jangka panjangnya bila konsumsi gula berlebihan atau karbohidrat sederhana yang berlebihan secara terus menerus," jelas dia.

Risiko Kesehatan yang Mengintai Ketika Anak Konsumsi Terlalu Banyak Gula

Anak-anak sebenarnya memiliki kecenderungan tidak memilih makanannya sendiri. Tetapi, pilihannya juga bisa merupakan cerminan dari keputusan orang dewasa yang memberikan makanan kepada anaknya. Ketika mereka melihat orang tuanya memilih jenis makanan tertentu, bisa jadi anak akan mengikutinya.

Dan terlalu sering konsumsi minuman manis, camilan tinggi gula, atau karbohidrat sederhana tentunya bisa menyebabkan masalah kesehatan, Moms.

"Risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, atau pun kebiasaan pola makan yang tidak sehat yang sulit diubah di kemudian hari," tuturnya.

dr. Aisya berpesan agar kita tidak hanya fokus pada jumlah konsumsi gula hariannya, tetapi lebih penting adalah memperhatikan pola makan serta kebiasaan makan harian.

"Energi anak itu boleh tinggi karena mereka sehat dan juga aktif, tapi tugas kita adalah memastikan kesehatan mereka bertahan berpuluh-puluh tahun ke depan," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prajogo Pangestu Rogoh Rp8,48 Miliar Tambah Muatan Saham BREN
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Air Dingin dan Keruh, Ribuan Ikan di Waduk Jatiluhur Mati
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kejutan dari iCar, V23 Bakal Nongol di IIMS 2026
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Satgas PKH Kuasai Kembali 1.699 Hektare Lahan Tambang PT AKT
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kepala BGN Dadan Hindayana Tinjau Program MBG di Pulau Sebatik
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.