Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara menilai salah satu kunci utama pidato Presiden Prabowo Subianto yang mengusung konsep "Prabowonomics" di Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 Davos, Swiss, adalah peran penting Danantara dalam kerja sama investasi industri.
"Kunci pidato Prabowo terletak pada kehadiran Danantara yang mengajak co-invest atau kerja sama investasi industri pada para peserta di WEF. Meskipun jenis industri masa depan tidak dijelaskan secara detil," kata Bhima kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut, Bhima menilai bahwa dalam pidato tersebut, Presiden Prabowo mencoba menunjukkan kredibilitas program yang telah dijalankan dalam satu tahun pemerintahannya melalui pandangan inward (ke dalam).
Pidato dibuka dengan Indonesia mampu bertahan di tengah kondisi eksternal yang tidak menentu. Prabowo juga menunjukkan defisit APBN masih terjaga di bawah 3 persen, dan kemampuan untuk membayar utang masih baik.
"Tanggapan ini muncul karena adanya dampak pelebaran defisit APBN pada pelemahan nilai tukar rupiah yang menjadi concern dari pelaku pasar global. Setelah mendengar pidato, investor diharapkan bisa lebih melihat Indonesia sebagai negara yang risiko fiskalnya terkelola dengan baik," ujar Bhima.
Dalam pidato tersebut, Prabowo juga banyak menyinggung tantangan dan dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta soal program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Selain itu, kepastian hukum (rule of law) pada akhir pidato di forum tersebut disebut Bhima sebagai salah satu kekuatan Prabowo selama setahun terakhir.
"Memang harus diakui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk menertibkan izin di kawasan hutan bekerja cepat. Prabowo juga wajar membanggakan pencabutan izin 28 perusahaan yang menyebabkan kerugian ekologis," katanya.
Hanya saja, Bhima menilai ada yang terlewatkan dari pidato Prabowo yakni mengajak kerja sama terkait langkah transisi energi dalam konteks instalasi 100 GW panel surya di desa-desa.
"Peluang transisi energi idealnya menjadi daya ungkit bagi ekonomi Indonesia, karena sebagian investor yang hadir di WEF berlatar belakang sektor energi," ujarnya.
Baca juga: Di WEF, Kadin tekankan sinergi untuk tarik investasi digital ke RI
Baca juga: Di WEF, Prabowo kenalkan istilah "Greedonomics" terhadap usaha ilegal
Baca juga: Soal Prabowonomics di WEF, Istana: Terkait kedaulatan dan kemandirian
"Kunci pidato Prabowo terletak pada kehadiran Danantara yang mengajak co-invest atau kerja sama investasi industri pada para peserta di WEF. Meskipun jenis industri masa depan tidak dijelaskan secara detil," kata Bhima kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut, Bhima menilai bahwa dalam pidato tersebut, Presiden Prabowo mencoba menunjukkan kredibilitas program yang telah dijalankan dalam satu tahun pemerintahannya melalui pandangan inward (ke dalam).
Pidato dibuka dengan Indonesia mampu bertahan di tengah kondisi eksternal yang tidak menentu. Prabowo juga menunjukkan defisit APBN masih terjaga di bawah 3 persen, dan kemampuan untuk membayar utang masih baik.
"Tanggapan ini muncul karena adanya dampak pelebaran defisit APBN pada pelemahan nilai tukar rupiah yang menjadi concern dari pelaku pasar global. Setelah mendengar pidato, investor diharapkan bisa lebih melihat Indonesia sebagai negara yang risiko fiskalnya terkelola dengan baik," ujar Bhima.
Dalam pidato tersebut, Prabowo juga banyak menyinggung tantangan dan dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta soal program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Selain itu, kepastian hukum (rule of law) pada akhir pidato di forum tersebut disebut Bhima sebagai salah satu kekuatan Prabowo selama setahun terakhir.
"Memang harus diakui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk menertibkan izin di kawasan hutan bekerja cepat. Prabowo juga wajar membanggakan pencabutan izin 28 perusahaan yang menyebabkan kerugian ekologis," katanya.
Hanya saja, Bhima menilai ada yang terlewatkan dari pidato Prabowo yakni mengajak kerja sama terkait langkah transisi energi dalam konteks instalasi 100 GW panel surya di desa-desa.
"Peluang transisi energi idealnya menjadi daya ungkit bagi ekonomi Indonesia, karena sebagian investor yang hadir di WEF berlatar belakang sektor energi," ujarnya.
Baca juga: Di WEF, Kadin tekankan sinergi untuk tarik investasi digital ke RI
Baca juga: Di WEF, Prabowo kenalkan istilah "Greedonomics" terhadap usaha ilegal
Baca juga: Soal Prabowonomics di WEF, Istana: Terkait kedaulatan dan kemandirian


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5406820/original/085449400_1762606646-nadeo.jpg)


