Arah pasar saham domestik berbalik melemah pada perdagangan Jumat (23/1) pagi, meski IHSG sempat dibuka di zona hijau. Indeks turun tajam dari level pembukaan 9.031 ke 8.886 pada pukul 10.45 WIB, mencerminkan aksi ambil untung investor di tengah minimnya katalis jangka pendek.
Di tengah koreksi pasar tersebut, saham-saham grup Prajogo Pangestu menjadi sasaran jual, dengan PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan penurunan terdalam hingga menyentuh auto reject bawah (ARB). Tekanan juga menjalar ke emiten lain dalam grup, meski sejumlah analis masih memandang prospek jangka menengah saham-saham tersebut tetap menarik.
Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) tercatat rontok hingga menyentuh 14,62% ke Rp 9.225 pada perdagangan saham intraday siang ini, Jumat (23/1) pukul 10.19 WIB. Selain itu saham kontraktor batu bara itu juga anjlok sepanjang lima hari terakhir dan rontok hingga 28,49% dalam seminggu terakhir.
Volume yang diperdagangkan tercatat 168,02 juta dengan nilai transaksi Rp 1,59 triliun, dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 92,79 triliun. Padahal PT Petrosea Tbk (PTRO), disebut berpeluang masuk ke dua indeks global utama, yakni Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE), dalam waktu dekat. Tak hanya itu, Henan Putihrai Sekuritas menargetkan harga saham PTRO bisa melesat ke Rp 16.000.
PTRO tak sendiri, saham Prajogo Pangestu lainnya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga turun 1,47% ke Rp 6.725 dan anak usahanya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga rontok 6,08% ke Rp 1.390.
Selain itu PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) anjlok 7,44% ke Rp 1.680, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terperosok 4,47% ke Rp 9.075, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga ambles hingga 9,45% ke Rp 2.490.
Apalagi dengan topangan kuat dari BREN dan TPIA, Henan Putihrai memproyeksikan harga saham BRPT berpotensi naik hingga target harganya mencapai Rp 4.100. Sekuritas tersebut merekomendasikan akumulasi saham BRPT dengan potensi alpha sebesar 41,36% dibandingkan tolok ukur Prospek Pasar HPS 2026.
“BRPT merupakan konglomerat terdiversifikasi dengan dua pilar utama, yakni energi terbarukan dan petrokimia, yang menjadi motor pertumbuhan pendapatan dan kinerja grup,” tulis Henan Putihrai dalam risetnya, Kamis (22/1).
Sebelumnya Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan saham-saham grup Prajogo melemah terutama karena profit taking setelah reli tahun lalu, normalisasi valuasi, serta belum muncul katalis baru jangka pendek.
“Selain itu, pasar kini lebih selektif ke saham dengan visibilitas laba dekat, sementara sebagian grup Prajogo masih berbasis tema jangka menengah–panjang,” ucapnya kepada Katadata.co.id, 7 Januari 2026 lalu.



