Deden Maulana menjadi salah satu korban tewas insiden jatuhnya pesawat ATR-42 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Sabtu (17/1).
Deden adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan pangkat Penata Muda tingkat 1, jabatannya Pengelola Barang Milik Negara.
Keluarga besar KKP melepas Deden yang gugur dalam tugasnya dalam upacara persemayaman jenazah di Auditorium Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, (22/1).
Dalam acara itu ada momen mengharukan saat putra Deden, Asensio, melantunkan ayat suci Al-Quran, tepatnya Surah Al-Insyirah di depan jenazah ayahnya.
Isak tangis keluarga dan kerabat terdengar saat itu. Namun, Asensio yang masih berusia 6 tahun itu terlihat tegar dan membacakan surah tersebut dengan lancar dan lantang hingga selesai.
Surah Al-Insyirah yang artinya "kelapangan" mengajarkan tentang optimisme, kelapangan hati, dan adanya kemudahan di balik kesulitan. Berikut ini arti surah yang memiliki 8 ayat itu:
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?
Dan Kami pun telah menghilangkan bebanmu darimu,
yang memberatkan punggungmu,
dan Kami tinggikan sebutan (nama)-mu bagimu.
Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
KKP memastikan hak keluarga Anumerta Deden terpenuhi, termasuk beasiswa anak, asuransi dan merekrut istri almarhum, Vera, di institusi tersebut.
"Pak Menteri berpesan untuk putranya, akan diberikan beasiswa sampai perguruan tinggi," kata Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Pung Nugroho Saksono (Ipunk) di acara tersebut.
Almarhum Deden disemayamkan di kampung halaman di Kabupaten Garut, Jawa Barat.





