DEPOK, KOMPAS.com – Aksi mogok jualan daging sapi yang diinisiasi Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta sejak Kamis (22/1/2026) tidak sepenuhnya diikuti pedagang di Pasar Depok Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok.
Sejumlah pedagang masih terlihat berjualan demi bertahan hidup di tengah tingginya harga daging sapi.
Aksi mogok tersebut disebut dilakukan oleh seluruh pedagang daging sapi dan bandar sapi potong di pasar tradisional serta Rumah Potong Hewan (RPH) se-Jabodetabek.
Baca juga: Harga Daging Sapi di Depok Tembus Rp 150.000 per Kg, Pedagang Pilih Kurangi Stok
Salah satu pemicunya adalah belum terealisasinya janji pemerintah untuk menstabilkan harga sapi hidup, sebagaimana disepakati dalam rapat pada 5 Januari 2026.
Akibat belum adanya stabilisasi, harga sapi timbang hidup dari feedlot dinilai masih terlalu tinggi dan berdampak langsung pada harga daging di tingkat pedagang.
Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Depok Jaya, Toha (60), mengaku mengetahui rencana aksi mogok tersebut. Namun, ia memilih tetap berjualan karena masih memiliki stok daging sapi dari hari sebelumnya.
“Demo biar yang bos-bos saja, kalau pedagang kayak saya ya masih susah (buat enggak jualan), ini juga stok sisa aja saya pake,” ucap Toha saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis.
Toha menjual sekitar 10 kilogram stok sisa daging sapi dengan kisaran harga Rp 140.000–150.000 per kilogram. Harga tersebut ia tetapkan karena mahalnya harga daging yang dibeli dari RPH.
Menurut Toha, minat beli masyarakat terus menurun dalam dua pekan terakhir, sehingga ia kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi serupa juga dialami Uci (45), pedagang daging sapi lainnya yang memilih tetap berjualan secara daring dengan mengandalkan stok sisa. Di tengah aksi mogok, Uci menjual daging sapi seharga Rp 120.000 per kilogram, sesuai harga beli dari RPH.
Baca juga: Pedagang di Depok Keluhkan Harga Daging Sapi Naik hingga Rp 130.000 per Kg
Keputusan itu diambil karena Uci khawatir kehilangan kepercayaan pelanggan, yang sebagian besar berasal dari kalangan restoran dan rumah sakit.
“Kami bertahan dulu deh (balik modal), biarin. Kita yang penting itu service ke customer jangan sampai terputus,” ungkap Uci.
“Kami pengin naikkin Rp 5.000 saja ke customer ya susah, soalnya kan kami marketnya banyak pesaing,” sambungnya.
Harga daging mahal sejak Desember 2025Toha menyebutkan, harga jual daging sapi saat ini terbilang terlalu tinggi, terlebih menjelang bulan puasa Ramadhan yang tinggal hitungan pekan.
Kenaikan harga daging sapi telah terjadi sejak awal Desember 2025 dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga kini.



