EtIndonesia. Situasi keamanan global memasuki fase paling genting dalam beberapa tahun terakhir. Iran secara terbuka mengonfirmasi bahwa negara itu telah memasuki status perang, sementara Amerika Serikat merespons dengan pengerahan militer besar-besaran di berbagai kawasan strategis, khususnya Timur Tengah.
Ketegangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik global yang berlangsung serempak: ledakan besar gudang amunisi Rusia, perubahan drastis medan perang Ukraina akibat serangan pasukan khusus Kyiv, serta peningkatan aktivitas militer AS di Asia-Pasifik yang diarahkan ke Tiongkok melalui Selat Taiwan.
Iran: “Kami Sudah Berada dalam Keadaan Perang”
Beberapa hari sebelum 20 Januari 2026, Ali Akbar Safavi—penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran sekaligus mantan petinggi Garda Revolusi—secara terbuka menyatakan bahwa Iran telah resmi berada dalam kondisi perang, dengan fokus utama menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan Israel.
Dalam pidato internal yang bocor ke publik, Safavi menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang untuk gencatan senjata, protokol internasional, ataupun kesepakatan pembatasan konflik antara Iran, AS, dan Israel. Dia menyebut fase saat ini sebagai “perang yang sedang berlangsung”, dan menyatakan bahwa konflik berikutnya akan bersifat final dan menentukan.
Uji Coba Rudal Jarak 10.000 Km Picu Alarm Washington
Pada pertengahan Januari 2026, akun platform X Youwanban TV mengungkapkan bahwa Iran—dengan izin Rusia—telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh ke arah Siberia.
Rudal tersebut diklaim memiliki jangkauan hingga 10.000 kilometer, yang secara teoritis mampu menjangkau kota-kota strategis AS seperti New York dan Washington. Informasi ini langsung memicu status kewaspadaan tinggi di Pentagon, sekaligus mempercepat penguatan sistem pertahanan udara AS di kawasan Timur Tengah.
Pengerahan Militer AS: Darat, Udara, dan Laut
Menanggapi ancaman tersebut, AS sejak 16–21 Januari 2026 melaksanakan pengerahan militer berlapis:
- Sistem pertahanan Patriot dan THAAD dipercepat penempatannya untuk menghadapi potensi serangan rudal balistik dan jelajah Iran.
- Sistem anti-drone laser IgEos dikirim dalam jumlah besar ke Pangkalan Udara Kuwait, mengantisipasi serangan kawanan drone.
- Pangkalan utama AS di Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Turki meningkatkan kesiapan tempur ke level siaga tinggi.
Dalam periode yang sama, Angkatan Udara AS mencatat:
- Sedikitnya 30 penerbangan pesawat angkut C-17
- 12 penerbangan pesawat tanker KC-135
Seluruhnya difokuskan untuk pemindahan pasukan, sistem senjata, dan logistik ke titik-titik krusial.
Armada Kapal Induk Bergerak Menuju Teluk Persia
Di laut, satu grup tempur kapal induk AS telah bergerak dari Asia Tenggara menuju Teluk Persia, dengan sistem identifikasi dimatikan demi keamanan taktis. Armada ini membawa jet tempur F-35 serta kapal perusak dan penyapu ranjau sebagai pengawal.
Sementara itu, kapal induk George H. W. Bush telah meninggalkan pangkalan Norfolk dan diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan. Patroli intensif di Teluk Persia juga dilakukan untuk mencegah upaya Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital energi global.
Ancaman Terbuka Antar Pemimpin Negara
Ketegangan meningkat tajam ketika nama para pemimpin tertinggi mulai disebut secara langsung dalam ancaman resmi.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Shekarchi, pada pertengahan Januari menyatakan bahwa keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran adalah garis merah mutlak. Dia memperingatkan bahwa siapa pun yang mengancam Ali Khamenei akan “dipatahkan tangannya” dan diseret ke “lautan api tanpa tempat berlindung” di Timur Tengah.
Trump: “Itu Perintah Militer, Bukan Emosi”
Pada 20 Januari 2026, Presiden AS, Donald Trump dalam wawancara dengan NewsNation memberikan pernyataan paling keras sejak krisis ini berkembang.
Trump menegaskan bahwa dia telah mengeluarkan perintah militer eksplisit: jika Iran merencanakan atau melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya atau pemimpin Amerika mana pun, militer AS akan melancarkan serangan penghancur total hingga Iran dilenyapkan.
Dia menekankan bahwa pernyataan tersebut bukan reaksi emosional, melainkan instruksi strategis yang sudah disiapkan.
Tekanan Internal Iran dan Krisis Kemanusiaan
Para analis menilai eskalasi ini bertepatan dengan krisis internal terparah Iran sejak Revolusi Islam 1979. Sejak akhir 2025, runtuhnya ekonomi dan anjloknya nilai mata uang memicu gelombang protes nasional.
Organisasi HAM Iran yang berbasis di Norwegia menyebutkan bahwa akibat pemblokiran informasi ketat, angka korban tewas kemungkinan jauh melampaui data resmi, dan dalam skenario terburuk dapat mencapai 20.000 orang.
Krisis ini bahkan mendorong perubahan sikap sejumlah tokoh diaspora, termasuk Shirin Ebadi, peraih Nobel Perdamaian, yang secara terbuka menyerukan intervensi internasional dan serangan presisi terhadap pucuk pimpinan rezim Iran.
Israel Siap Hadapi Hujan Rudal
Di sisi lain, Israel menyatakan kesiapan ekstrem untuk menghadapi kemungkinan serangan hingga 700 rudal Iran demi menjatuhkan rezim Teheran. Pernyataan ini memicu kontroversi global dan menegaskan bahwa konflik kini telah memasuki titik kritis paling berbahaya, baik secara internal di Iran maupun dalam skala geopolitik internasional.
Kesimpulan:
Dengan status perang yang diumumkan Iran, pengerahan militer AS yang masif, serta saling ancam terbuka di level tertinggi, dunia kini menyaksikan konvergensi krisis global yang berpotensi meledak menjadi konflik besar. Banyak pihak menilai, satu kesalahan kecil saja dapat memicu eskalasi yang tak lagi terkendali.


