BEKASI, KOMPAS.com – Seorang ibu muda yang baru menjalani persalinan secara caesar di RT 03 RW 06, Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, terpaksa dievakuasi menggunakan kasur angin akibat keterbatasan sarana evakuasi banjir di wilayah tersebut.
Evakuasi dilakukan pada Jumat (23/1/2026) setelah rumah korban terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 80 sentimeter.
Kondisi korban yang masih lemah pascaoperasi, serta keberadaan bayi yang masih sangat kecil, membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Baca juga: Banjir Rendam 9 Kecamatan di Kota Bekasi, Jatibening Permai Capai 150 Cm
Babinsa Desa Srimukti Koramil 01 Tambun Utara, Sersan Kepala Dono Anwar, mengatakan evakuasi dilakukan demi keselamatan ibu dan bayinya yang masuk kategori kelompok rentan.
“Kami baru melaksanakan evakuasi terkait adanya bayi yang masih kecil, kemudian orang tuanya juga baru selesai menjalani operasi caesar. Tadi sempat mengalami kesulitan karena kondisinya masih pascaoperasi,” ujar Dono saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat.
Dono menjelaskan, perahu karet sebenarnya sempat tersedia pada malam sebelumnya. Namun, karena saat itu ketinggian air belum terlalu tinggi, perahu dialihkan ke lokasi lain yang dinilai lebih membutuhkan.
“Untuk ketersediaan perahu, semalam sebenarnya sudah ada. Namun perahu digunakan di tempat lain. Saat ini debit air sudah mulai naik,” katanya.
Ia mengakui hingga Jumat siang aparat masih mengalami keterbatasan sarana evakuasi, seiring meluasnya wilayah banjir di Desa Srimukti dan Desa Srijaya.
“Untuk sementara kami masih kesulitan mencari perahu. Jadi evakuasi dilakukan dengan apa adanya, menggunakan kasur angin, yang penting korban bisa diselamatkan,” ujarnya.
Proses evakuasi dilakukan dengan jarak sekitar 500 meter dari rumah korban menuju lokasi yang lebih aman.
Baca juga: Banjir Meluas di 20 Kecamatan Kabupaten Bekasi, Ribuan Rumah Terendam
Sementara itu, Namah (60), anggota keluarga korban, mengungkapkan pihak keluarga sebenarnya telah berencana mengevakuasi korban sejak Kamis malam. Namun, keterbatasan perahu membuat rencana tersebut tertunda.
“Rencananya dari semalam mau evakuasi, tapi karena perahu belum ada dan saya juga bawaannya ribet, akhirnya nunggu siang buat pindahin anak saya,” kata Namah.
Ia menyebutkan, ketinggian air di dalam rumah terus meningkat dan sempat menimbulkan kekhawatiran keluarga.
“Di dalam rumah airnya sudah setengah meter. Saya takut makin lama makin naik. Tadi awalnya di bawah lutut, sekarang sudah di atas lutut,” ujarnya.
Hingga Jumat siang, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kecamatan Tambun Utara akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara terus-menerus dan meluapnya aliran air di kawasan tersebut.




