Penulis: Redaksi TVRINews
TVRInews, Padang
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sirah Piai Nan XX, Kota Padang, Sumatera Barat, menyajikan menu istimewa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah. Menu tersebut bukan rendang biasa, melainkan rendang daging yang diolah menggunakan santan dan minyak kelapa hasil petikan beruk atau monyet terlatih.
Proses pengolahan rendang ini diunggah melalui akun Instagram resmi @sppgtanahsirahpiainanxx dengan judul “Story Marandang” pada Kamis, 22 Januari 2026. Dalam video tersebut, tampak sejumlah beruk memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan buah kelapa menggunakan kekuatan kaki dan tangannya.
Kelapa-kelapa hasil petikan tersebut kemudian diolah menjadi santan sebelum dibawa ke dapur SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX. Di dapur, para petugas terlihat bekerja secara gotong royong, mulai dari menghaluskan bumbu, mengolah santan, hingga memasak rendang daging hingga matang.
Setelah proses memasak selesai, menu Makan Bergizi Gratis dibagikan per porsi ke dalam ompreng. Menu MBG hari itu terdiri dari nasi putih, rendang daging, tahu goreng, dan buah jeruk.
Paket makanan kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah di sekitar wilayah Tanah Sirah Piai Nan XX. Anak-anak tampak antusias dan lahap menikmati menu rendang yang disajikan.
Pendiri Indonesia Food Security Review, I Dewa Made Agung, turut memberikan tanggapan terhadap sajian MBG unik tersebut. Menurutnya, beruk yang digunakan untuk memetik kelapa merupakan beruk terlatih yang memiliki kemampuan khusus.
“Beruk ini punya sekolah, punya kepala sekolah sendiri, dan dilatih khusus untuk memanjat serta memilih kelapa terbaik,” ujar Agung.
Ia menilai, rendang yang dihasilkan dari kelapa petikan beruk memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan rendang pada umumnya.
“Walaupun banyak orang bisa memasak rendang, rasanya tidak akan sama. Salah satu kunci rasa rendang ada pada minyak kelapanya,” katanya.
Agung menambahkan, sajian MBG dari SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX tidak hanya bergizi, tetapi juga mengandung nilai budaya dan kearifan lokal.
“Ini dari alam, ke dapur SPPG, lalu ke piring anak-anak Indonesia. Ada cerita mutualisme antara beruk dan manusia dalam menciptakan rasa dan budaya,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews





