Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui Jakarta saat ini sedang menghadapi cuaca ekstrem yang jarang terjadi. Ia menyebut curah hujan pada 18 Januari 2026 mencapai 267 milimeter per hari, angka yang dinilainya sangat tinggi dan tidak biasa bagi Jakarta.
"Puncak tertingginya ada di tanggal 18, yaitu 267 milimeter per hari dan itu tinggi sekali. Jakarta rasanya jarang sekali seperti itu," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Pramono menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi tersebut menjadi salah satu penyebab banjir yang terjadi pada 12, 18, dan 22 Januari di sejumlah wilayah Jakarta. Meski curah hujan pada 22 Januari tidak setinggi sebelumnya, durasi hujan yang panjang tetap memicu genangan dan banjir.
"Kemarin itu rata-rata sekitar 150 milimeter, tapi durasinya panjang. Itu juga berdampak," ujarnya.
Ia menegaskan kondisi cuaca ekstrem ini menjadi dasar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 27 Januari 2026. OMC yang semula dijadwalkan berakhir pada 23 Januari diperpanjang sebagai langkah antisipasi agar curah hujan dapat ditekan.
"BMKG sudah menyampaikan kepada kami, sehingga operasi modifikasi cuaca yang awalnya hanya sampai tanggal 23 kami perpanjang sampai dengan tanggal 27," tuturnya.
Menurut laporan BPBD DKI Jakarta, saat ini operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan intensitas tinggi. Dalam sehari, pesawat OMC diterbangkan hingga tiga kali. Pramono memastikan anggaran untuk kegiatan tersebut telah disiapkan dan tidak menjadi kendala.
"Budget-nya sudah tersedia, bahkan kami siapkan sampai dengan 30 hari ke depan," ucapnya.
(bel/zap)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481210/original/091220400_1769081402-PSJ05705.jpeg)