Pasar modal Indonesia tengah menghadapi dinamika yang kontras sepanjang pekan ini. Meski diterjang aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai triliunan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan daya tahan yang signifikan berkat sokongan kuat dari investor domestik.
Pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, indeks melemah ke level 8.876,9, terkoreksi 115,28 poin atau 1,28%. Kecuali kelompok saham kesehatan, 10 sektor yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak memerah pada siang ini. Sektor siklikal, transportasi, dan energi menjadi yang paling tertekan, dengan masing-masing terkoreksi 2,89%, 2,66%, dan 2,35%.
Bila melihat data perdagangan selama pekan ini, tekanan dari sisi arus keluar modal asing terlihat sangat konsisten. Pada Senin (19/1/2026) lalu, tercatat arus keluar dana asing dari pasar reguler sebesar Rp 710 miliar. Angka tersebut melonjak drastis pada Rabu (21/1/2026) hingga menyentuh Rp 1,88 triliun, dan berlanjut pada Kamis (22/1/2026) dengan nilai outflow sebesar Rp 964 miliar.
Secara kumulatif, lebih dari Rp 3,5 triliun dana asing keluar dari pasar saham Tanah Air dalam waktu singkat. "Namun, di balik tekanan hebat tersebut, IHSG memperlihatkan ketahanan yang mengesankan," kata Head of Retail Marketing & Product Development Division PT Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan, kepada Katadata.co.id, Jumat (23/1).
Seperti pada perdagangan hari ini misalnya, indeks sempat rebound dan menyentuh level intraday di posisi 9.031,49, meski akhirnya ditutup melemah ke level 8.876,9. Begitu pula pada Kamis kemarin, IHSG juga sempat menguat signifikan dan menyentuh level intraday di posisi 9.109. Meski akhirnya ditutup sedikit melemah ke level 8.992,
"Pergerakan ini mencerminkan adanya kekuatan beli yang besar dari pelaku pasar dalam negeri," tutur Reza.
Sentimen Global dan Perlawanan DomestikReza menuturkan, fenomena bertahannya IHSG ini terjadi di tengah membaiknya sentimen global. Meredanya ketegangan geopolitik di Greenland serta ekspektasi kebijakan suku bunga global yang cenderung dovish telah menciptakan suasana risk-on di pasar keuangan dunia.
"Kondisi psikologis positif ini turut merambah ke investor lokal, meskipun investor asing justru memilih melakukan distribusi pada saham-saham perbankan big cap seperti BBCA, BMRI, dan BBRI," ujarnya.
Dia mengatakan, aksi jual asing pada sektor perbankan diduga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap valuasi atau ekspektasi pertumbuhan sektor keuangan. Namun, momen koreksi harga ini justru dimanfaatkan oleh investor ritel dan institusi lokal untuk melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan tersebut. Likuiditas domestik pun muncul sebagai penopang utama yang menjaga pasar agar tidak terkoreksi lebih dalam.
Proyeksi dan Strategi InvestasiMenatap perdagangan ke depan, kata Reza, IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada rentang level 8.000–8.350 hingga pekan depan. Potensi pergerakan sideways ini tetap terbuka seiring dengan upaya pasar mencari keseimbangan antara sentimen global yang positif dan tekanan outflow asing yang masih deras.
Menyikapi kondisi ini, dia menyarankan investor domestik untuk tetap selektif dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat, terutama di sektor consumer staples, telekomunikasi, dan energi yang masih mencetak pertumbuhan laba.
"Strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap dapat diterapkan saat harga saham mengalami koreksi, dengan memperhatikan area support teknikal di kisaran 8.000–8.100 sebagai zona beli," tuturnya.
Selain itu, disiplin terhadap rencana investasi dan manajemen risiko tetap menjadi kunci. Investor diharapkan tidak terjebak dalam euforia rebound sesaat dan tetap memantau katalis eksternal seperti data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Sementara di dalam negeri, rilis laporan keuangan kuartal IV dan arah kebijakan fiskal pemerintah akan menjadi faktor penentu utama bagi arah gerak pasar selanjutnya."


