FAJAR.CO.ID – Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkap fenomena menarik. Tabungan masyarakat dengan nilai fantastis, di atas Rp5 miliar, ternyata melesat tinggi di perbankan. Pertumbuhannya mencapai 22,76 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi juga jadi cermin nyata tentang kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi di Indonesia.
Kaitan dengan Dana Pemerintah dan Pertumbuhan yang TimpangFerdinan D. Purba, anggota Dewan Komisioner LPS, punya analisis terkait lonjakan ini. Menurutnya, tren tersebut sejalan dengan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di beberapa badan usaha milik negara.
“(Tabungan) di atas Rp5 miliar ini pertumbuhannya cukup tinggi, 22,76 persen pertumbuhannya. Ini mungkin juga dikontribusi adanya penempatan dana SAL pemerintah itu, mungkin persentasenya cukup tinggi jadinya,” tuturnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
Di sisi lain, tabungan kalangan menengah ke bawah juga tumbuh, meski sangat pelan. Tabungan di bawah Rp100 juta hanya naik 3,43 persen year-on-year. Jelas, angkanya jauh tertinggal dibandingkan dengan pertumbuhan tabungan miliaran rupiah tadi.
“Jadi memang kalau dilihat dari pertumbuhan total dia tidak terlalu, tapi dia masih tumbuh yang di bawah Rp100 juta,” jelas Ferdinan.
Jumlah Warga ‘Unbanked’ Menyusut, Tapi…Ada kabar baik yang menyertai data tabungan ini. Jumlah penduduk usia produktif, antara 15 hingga 69 tahun, yang belum punya rekening bank terus merosot. Tren penurunan ini cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Misalnya, pada 2023 jumlahnya masih 23,5 juta orang. Angka itu turun drastis jadi 18,2 juta di 2024. Dan diproyeksikan bakal menyusut lagi menjadi 15,3 juta orang pada tahun depan.
Farid Azhar Nasution, Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, membenarkan tren positif ini. “Dalam beberapa tahun terakhir betul memang data unbanked sudah menunjukkan tren penurunan untuk usia 15 sampai 69 tahun, totalnya 23,5 juta dan turun menjadi 15,3 juta di 2025,” ungkapnya.
Namun begitu, ia tak mau cepat berpuas diri. Menurut Farid, angka 15,3 juta jiwa itu tetaplah sangat besar dan mengkhawatirkan. Upaya untuk meningkatkan literasi keuangan serta sosialisasi penjaminan simpanan harus terus digenjot.
“Jumlah ini menurut kami masih cukup besar dan harus terus diturunkan,” pungkas Farid menegaskan.
Jadi, gambaran yang muncul adalah dua sisi mata uang. Di satu puncak, kekuatan finansial segelintir orang tumbuh pesat. Sementara di dasar, masih ada pekerjaan rumah yang sangat berat untuk mengikis jumlah warga yang sama sekali belum tersentuh layanan perbankan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482292/original/037479500_1769170969-a857488b-ef55-4c30-85ca-3773d120f5f0.jpg)



