Jakarta, VIVA – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menegaskan, elektrifikasi merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesial.
Hal tersebut disampaikan Anindya sapaan akrabnya dalam diskusi panel bertajuk “Rise of Electro States” di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swis, Kamis siang, 22 Januari 2026 waktu setempat.
“Bagi Indonesia, elektrifikasi benar-benar menjadi kunci bagi pertumbuhan, inovasi industri, dan juga kesejahteraan masyarakat,” kata Anindya dalam keterangannya, Jumat, 23 Januari 2026.
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Dia menjelaskan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa, yang mayoritas berusia muda dan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5 persen, selama tiga dekade terakhir elektrifikasi menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional.
"Saat ini, kapasitas listrik terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 100 gigawatt, dengan tingkat konektivitas jaringan listrik mencapai 99 persen di 17.000 pulau," ujarnya
Namun demikian, Anindya mengakui bahwa masih ada tantangan yang tersisa. Dimana sekitar 1 persen wilayah yang mencakup kurang lebih 10.000 desa dan satu juta rumah tangga, belum sepenuhnya menikmati akses listrik yang andal.
"Kendala (penyediaan) jaringan menjadi isu krusial, seiring upaya Indonesia untuk meningkatkan kapasitas listrik sekaligus memastikan kualitas layanan bagi masyarakat," kata Anindya.
Di sisi lain, tantangan tersebut juga menghadirkan peluang besar. Anin menilai, Indonesia memiliki keunggulan strategis baik dari sisi demografi maupun sumber daya alam. Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, serta memiliki cadangan tembaga dan silika yang signifikan.
"Hal ini mendukung agenda hilirisasi industri dan upaya menjaga keterjangkauan energi, mengingat meski menjadi (negara) ekonomi ke-16 terbesar dunia, pendapatan per kapita Indonesia masih berada di kisaran 5.000 dolar AS," ujar Anindya.
Karenanya, Dia menekankan bahwa Indonesia tidak dapat berjalan sendiri, terutama dalam hal teknologi dan pengembangan talenta.
“Indonesia adalah negara non-blok dan non-aligned (tidak berpihak), sehingga kami dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun kolaborasi tersebut harus saling menguntungkan dan tidak menimbulkan ketergantungan,” ujarnya.





