Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat ke level Rp16.820 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (23/1/2026). Rupiah menguat bersamaan dengan penguatan dolar AS.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup menguat 0,45% ke Rp16.820 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,05% ke 98,40.
Sementara itu, mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi. Yen Jepang naik 0,04%, dolar Hong Kong melemah 0,02%, dolar Singapura menguat 0,13%, dolar Taiwan menguat 0,15%, dan won Korea Selatan turun 0,25%.
Kemudian peso Filipina menguat 0,10%, yuan China menguat 0,06%, ringgit Malaysia naik 0,89%, dan baht Thailand melemah 0,15%.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan saat ini pasar menunggu pilihan Presiden AS, Donald Trump untuk Ketua Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell. Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Selain itu, data ekonomi AS terbaru juga menunjukkan bahwa perekonomian berjalan lebih baik dari yang diperkirakan. Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal III/2025 melebihi perkiraan.
Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilitas daripada pelemahan, seperti yang ditunjukkan oleh para pejabat Federal Reserve (Fed). Oleh karena itu, ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari kemungkinan sudah tidak berlaku lagi.
Donald Trump juga melunakkan ancamannya terhadap Greenland setelah Trump mengatakan dia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO.
Sementara itu, para pemimpin Uni Eropa akan mempertimbangkan kembali hubungan dengan AS pada pertemuan puncak darurat pada hari Kamis, setelah ancaman Trump tentang tarif dan bahkan tindakan militer untuk memperoleh Greenland sangat mengguncang kepercayaan dalam hubungan transatlantik.
Trump juga mengatakan dia berharap tidak akan ada tindakan militer AS lebih lanjut di Iran, tetapi menambahkan AS akan bertindak jika Iran melanjutkan program nuklirnya.
Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) meminta Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi rupiah di pasar valuta asing, seraya menegaskan nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global.
IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru.
Dalam kondisi tersebut, BI menerapkan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar. IMF mencatat intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri.
Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur.
Adapun untuk Senin depan, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.820-Rp16.850. Sementara itu, untuk sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak pada rentang Rp16.790-Rp17.000 per dolar AS.




