FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Indonesia ikut “Board of Peace for Gaza” bikinan Donald Trump. Ini adalah badan bikinan Presiden Amerika Serikat itu sesudah dia klaim bikin perdamaian di Timur Tengah. Presiden Indonesia ikut dalam penandatanganan Accord itu di Kairo tahun lalu.
Demikian sorotan peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institute, Made Supriatma, melalui akun media sosialnya, dikutip Jumat (23/1/2026). Dia mengaku heran dengan sikap Indonesia yang rela membayar belasan triliun di tengah jebloknya nilai tukar rupiah.
Sementara kemarin, rupiah jeblok ke 16,985 per US dollar. Padahal US dollar melemah terhadap mata uang negara lain.
“Lalu apa hubungannya rupiah sama Board of Peace itu. Mungkin Anda pikir tidak ada. Atau memang tidak usah dipikir. Lha ya nggak gitu-gitunya lagi. Untuk jadi anggota pendiri Board of Peace itu, oleh Trump negara-negara ini dipatok bayar iuran US$1 milyar. Itu sama dengan Rp16,985 triliun,” urai Made.
Dia kemudian membeberkan bahwa Trump mau bikin Riviera di sana, wilayah pesisir yang indah penuh dengan hotel, night club, kasino, dan lain sebagainya. Mungkin mirip Atlantic City, sebuah kota di New Jersey di mana Trump dulu bangun kasino dan bangkrut (mana ada kasino yang bangkrut?).
“Nah proyek bikin Riviera di Gaza itu akan dipimpin oleh mantunya, Jared Kushner, yang jadi broker banyak hal di Timur Tengah. Kushner kawin sama anaknya Trump, Ivanka,” beber Made.
Ada 60 negara diundang Trump untuk ikut dalam Board of Peace ini. Tidak semua antusias ikut. Banyak negara Uni Eropa tidak ikut.
“Inggris juga tidak mau ikut gabung. Bahkan negara tetangga kita yang kaya raya juga mengambil sikap tunggu dan lihat-lihat,” ungkap pria asal Bali itu.
Media Indonesia ramai memberitakan soal keikutsertaan negeri ini. Bahkan ada yang bilang bahwa Trump tepuk-tepuk pundak pemimpin negeri ini. Seakan-akan bilang, “Good boy! Good boy, Indonesia!”.
Rp16,895 triliun yang kita tidak punya. Duit segitu lebih dari seperempat dana yang kita perlukan untuk membangun kembali daerah-daerah yang terkena bencana longsor dan banjir di Sumatra kemarin.
Jangan dibandingkan dengan MBG karena duit segitu hanya cukup untuk 16 hari MBG saja.
Duit segitu lebih besar dari dana otonomi khusus untuk wilayah Papua dan Aceh sekaligus yang besarnya hanya 14 triliun.
“Oh ya, kemarin badan otorita IKN minta budget 17 triliun untuk tahun ini. Tapi berapa yang dialokasikan? 6 triliun saja,” sindirnya.
Dan, lanjut Made Supriatma, mungkin Anda pikir itu nggak berpengaruh untuk Anda. Ini negara kaya raya. Kita gali aja tambang dan dapat emas perak tembaga atau nikel. Atau kita babat aja hutan kita bisa jual kayunya dan terus tanam sawit. Itu semua angin surga yang diembuskan para elit negeri ini yang rajin menggarong negaranya sendiri.
“Kenyataannya, Anda sendiri yang harus bayar. Lewat apa? Kalau beli rokok, Anda bayar cukai. Beli celana dalam, bayar PPN. Naik jalan tol, bayar tol. Bahkan beli air galon, itu sebenarnya pajak! Di negara lain, air bersih disediakan negara. Karena mereka mengelola uangnya dengan baik. Rp16,985 triliun … yang kita tidak punya!,” tutup Made Supriatma. (sam/fajar)




