Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dora Amalia, memaparkan sejarah awal penyusunan KBBI. Cikal bakalnya adalah Kamus Bahasa Indonesia yang disusun antara 1974 hingga 1983 dengan pemimpin redaksi Sri Sukesi Adiwimarta. Kamus ini kemudian berkembang menjadi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan diluncurkan pertama kali pada 1988.
“Perkembangan jumlah entri sangat signifikan. Edisi I (1988) ada 62.000, edisi II (1991) menjadi 72.000, edisi IV (2008) sekitar 90.000, dan edisi V daring diluncurkan pada 2016 dengan 108.857 entri,” jelas Dora Amalia, di Laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kabupaten Bogor, Jumat, 23 Januari 2026. Lonjakan Besar di Era Digital Transformasi terbesar terjadi setelah KBBI menjadi daring. Pada 2023, entri bertambah menjadi 112.036. Namun, lonjakan paling dramatis terjadi saat ada prioritas untuk melampaui 200.000 entri. “Saat ini, data per Januari 2026, jumlah entri KBBI telah mencapai 210.595,” ungkap Dora. Data real-time ini dapat diakses publik melalui fitur statistik di laman KBBI Daring.
Dora juga mengungkapkan bahwa KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari tiga kamus pionir: Kamus Indonesia karya Soeltan Harahap (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta (1952), dan Kamus Modern Bahasa Indonesia karya Sutan Muhammad Zain (1951). “Beberapa entri berlabel ‘kata klasik’ dan ‘kata Arkais’ adalah warisan dari kamus-kamus awal tersebut,” tambahnya. KBBI yang Inklusif dan Dapat Diakses Selain versi daring yang dikenal luas, Badan Bahasa juga mengembangkan berbagai format untuk menjangkau semua lapisan masyarakat.
- KBBI Braille: Dicetak pada 2018 sebanyak 138 jilid untuk penyandang tunanetra, disimpan di Perpustakaan Akademi Bahasa dan Perpustakaan Nasional.
- KBBI Audio: Diluncurkan tahun 2019 bekerja sama dengan komunitas tunanetra, meski saat ini sedang dalam proses pembaruan.
- Aplikasi Mobile (Luring): KBBI versi Android dan iOS telah diperbarui pada Januari 2026, memungkinkan akses tanpa internet.
“Sampai saat ini, kami telah menerima 256.692 usulan dari masyarakat. Sekitar 70 persen atau 181.293 usulan sudah disunting dan masuk ke dalam KBBI,” jelas Dora.
Prosesnya melibatkan tim besar yang terdiri dari 114 editor, 44 redaktur, dan 7 koordinator, termasuk ahli dari berbagai universitas dan instansi seperti BRIN untuk istilah khusus flora-fauna. Rata-rata, tim dapat menyunting 53,77 entri per hari. Setiap usulan melewati alur kerja ketat yakni editor, redaktur, validator, dan rapat redaksi untuk keputusan akhir, termasuk penonaktifan suatu entri.
Dora menegaskan, KBBI adalah karya hidup yang terus berevolusi mengikuti dinamika bahasa masyarakat. “Fitur crowdsourcing ini diciptakan untuk merangkul partisipasi publik. Masyarakat dapat mengusulkan kata baru, memperbaiki definisi, bahkan mengusulkan penonaktifan. Semuanya transparan dan dapat dipantau statusnya oleh pengusul,” tutupnya.
Dengan sejarah panjang dan komitmen pada inovasi serta inklusivitas, KBBI terus membuktikan diri sebagai penjaga dan pencatat denyut nadi Bahasa Indonesia yang terus hidup dan berkembang.
Baca Juga :
5 Kata Baku Ini Aneh Didengar, Padahal Versi Gaul-nya Sering Kamu Pakai!Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




