Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perunggasan, PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (SIPD) memandang optimistis prospek industri perunggasan pada 2026. Hal itu sekaligus mendorong kepercayaan diri perseroan terhadap pertumbuhan fundamental perseroan pada tahun ini.
Direktur Sreeya Sewu Indonesia Natanael Yuyun Suryadi menerangkan bahwa latar belakang kepercayaan diri manajemen terhadap prospek pertumbuhan adalah target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jadi secara keseluruhan, kami masih optimis untuk prospek industri ini, tapi tentu saja kami tidak hanya melihat bahwa ini akan selalu positif dan kami mempunyai persiapan-persiapan, serta kami menyadari bahwa industri ini mempunyai volatilitas, apakah itu dari pergerakan harga dan lain-lain,” katanya dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (23/1/2026).
Sepanjang tahun ini, perseroan juga disebut akan berupaya menjalankan efisiensi dan efektivitas perusahaan guna menekan pengeluaran operasional, cost of goods, hingga mengurangi kerentanan perseroan terhadap fluktuasi harga di pasar.
Memandang 2026, Natanael menilai bahwa kondisi iklim saat ini cenderung basah dan diprediksi membuat harga jagung relatif stabil, yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan harga 2025. Hanya saja, risiko perubahan iklim dinilai berpotensi mempengaruhi suplai jagung untuk pakan ternak.
Selain itu, ketidakpastian global yang belakangan memuncak, disebut turut berpengaruh terhadap produksi dan ketersediaan bungkil kedelai sebagai salah satu bahan baku pakan ternak.
“Ekspektasi kami dapat tumbuh melebihi angka pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga disebut sebagai salah satu risiko yang membayangi kinerja SIPD. Hal itu disebut akan berimplikasi terhadap biaya yang dikeluarkan perseroan untuk material maupun capex.
Meskipun begitu, sejumlah strategi telah disiapkan oleh perseroan. Dari hilir, SIPD berupaya untuk semakin memperbesar porsi business-to-customer, alih-alih hanya fokus pada penjualan business-to-business.
Salah satu strateginya adalah kembali meluncurkan merek ‘Ayam Nanas’ yang diklaim dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke atas. Pada 2025, merek ini diklaim telah diapresiasi oleh pelanggan SIPD lantaran lebih rendah lemak dan minim bau. Hal itu yang membuat produk ini diharapkan mampu menjangkau pelanggan yang lebih luas pada 2026.
“Dengan mengembangkan brand dan menyasar ke segmen menengah ke atas kami harap bisa tumbuh lebih kuat sehingga kami lebih mempunyai kesempatan berkembang lebih baik lagi pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.




