Ketegangan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat sejak awal 2026 menyisakan konflik baru dalam dunia siber. Iran mampu mengalahkan Starlink untuk beroperasi bebas di kawasan kedaulatannya.
Bukan sekadar kisah pemadaman internet, melainkan juga bab baru perang siber modern. Ini adalah perang di langit, berupa perang spektrum, frekuensi, dan kecerdasan strategis, yang justru berbalik menjadi jebakan mematikan bagi lawan.
Sejak demonstrasi besar pecah pada 28 Desember 2025 hingga mereda pada 14 Januari 2026, dunia menyaksikan keputusan ekstrem pemerintahan tertinggi Iran. Negeri para Mullah itu mematikan hampir seluruh layanan internet darat.
ISP nasional dilumpuhkan, koneksi kabel dibekukan, dan lalu lintas data domestik dikunci rapat. Di mata publik global, langkah ini dianggap defensif dan represif. Namun, di baliknya tersembunyi kalkulasi militer siber tingkat tinggi.
Pemutusan internet darat itu bukan akhir, melainkan umpan. Iran memahami bahwa kekosongan konektivitas akan memancing solusi alternatif. Di sinilah Starlink masuk secara masif, menawarkan akses bebas dan cepat dari langit. Terminal-terminal kecil mulai bermunculan, digunakan oleh aktivis, jurnalis, hingga jaringan intelijen asing yang mengira langit lebih aman daripada bumi.
Ironisnya, keputusan Iran mematikan internet darat justru membuka medan tempur baru, yaitu perang internet langit. Alih-alih membiarkan Starlink beroperasi bebas, Iran mengubah ruang udara elektromagnetiknya menjadi arena perang spektrum. Negara ini tidak menyerang infrastruktur fisik satelit, tetapi menyerang fondasi ilmiah komunikasi itu sendiri.
Langkah pertama adalah jamming frekuensi. Iran mengganggu jalur komunikasi antara terminal Starlink dan satelit melalui spektrum gelombang elektromagnetik (GEM). Gangguan dilakukan berlapis, dari gelombang radio, inframerah, cahaya tampak, bahkan hingga spektrum energi tinggi, seperti sinar-X dan gamma. Hasilnya, komunikasi menjadi padat, delay memanjang, data terputus, dan akhirnya mati.
Bagi pengguna awam, gejalanya sederhana. Lampu terminal menyala, ikon koneksi aktif, tetapi internet tidak bergerak. Inilah ilusi konektivitas, internet tampak hidup, tetapi sebenarnya lumpuh. Dalam terminologi militer siber, ini adalah crowded channel paralysis, kondisi ketika jalur komunikasi penuh sesak, sehingga tidak ada paket data yang benar-benar sampai.
Langkah kedua Iran lebih canggih, yaitu dengan GPS spoofing. Hal itu dilakukan dengan memanipulasi sinyal navigasi. Iran “membohongi” posisi dan waktu terminal Starlink. Terminal mengira berada di koordinat dan waktu tertentu, padahal tidak. Akibatnya, sinkronisasi dengan satelit gagal, enkripsi terganggu, dan jalur komunikasi menjadi kacau.
Langkah ketiga adalah saturasi spektrum. Iran memenuhi spektrum dengan sinyal-sinyal artifisial, tidak memutus total, tetapi untuk melemahkan, seperti jalan tol yang dipenuhi kendaraan berhenti, sinyal ada, daya ada, tetapi tidak ada pergerakan efektif. Ini bukan serangan kasar, melainkan seni mengendalikan kepadatan.
Pada titik inilah Starlink berubah dari solusi menjadi sumber masalah. Setiap upaya koneksi dan setiap terminal yang aktif justru memancarkan jejak elektromagnetik yang bisa dipetakan. Iran tidak perlu meretas konten, tetapi cukup membaca pola. Siapa terhubung dengan siapa, kapan aktif, berapa lama, dan dari lokasi mana.
Dalam perang intelijen, metadata sering lebih berharga daripada data. Iran memanfaatkan Starlink sebagai alat pemetaan sosial dan operasional. Relasi antaragen, jaringan komunikasi, hingga ritme aktivitas harian dapat disusun seperti peta saraf. Ini bukan kebetulan, melainkan strategi yang dirancang sejak awal.
Akibatnya fatal. Lebih dari 600 agen Mossad—termasuk yang memiliki keterhubungan operasional dengan Amerika Serikat—terpetakan pascademonstrasi. Bukan karena mereka ceroboh secara individual, melainkan karena terlalu percaya pada teknologi tanpa memahami medan spektrum yang mereka masuki.
Pengalaman tempur dunia siber ini menegaskan satu hal penting. Perang internet di langit bukan soal siapa punya satelit paling banyak, tetapi siapa yang paling menguasai ilmunya. Peralatan canggih tanpa pemahaman spektrum hanyalah obor di malam gelap. Terang bagi diri sendiri, tetapi juga penanda bagi musuh.
Iran, dalam kasus ini, tidak menyerang internet sebagai konsep global. Iran menyerang kedaulatan spektrum frekuensi, sebagai hak negara atas ruang udara elektromagnetiknya sendiri. Ini adalah tafsir modern kedaulatan. Bukan hanya tanah dan laut, melainkan juga gelombang tak kasatmata di udara.
Banyak analis Barat keliru membaca strategi ini sebagai tindakan panik. Padahal justru sebaliknya, ini adalah operasi siber-defensif yang ofensif secara cerdas. Dengan memancing penggunaan Starlink, Iran menciptakan kondisi observasi ideal, lalu menutup jebakan secara ilmiah.
Demonstrasi yang kisruh selama hampir tiga minggu itu pun berubah fungsi. Dari sekadar gejolak sosial, ia menjadi laboratorium besar perang spektrum. Setiap koneksi ilegal dan setiap terminal aktif menjadi titik data bagi mesin analitik intelijen Iran.
Kasus ini memberi pelajaran keras bagi dunia militer dan intelijen global. Internet satelit bukan ruang netral. Ia tunduk pada hukum fisika, spektrum, dan kedaulatan. Siapa pun yang mengabaikan ini akan mengulang kesalahan yang sama: percaya bahwa langit selalu bebas.
Ke depan, konflik serupa hampir pasti terulang. Negara-negara yang menguasai ilmu spektrum, jamming adaptif, dan spoofing presisi akan unggul, bahkan tanpa menghancurkan satu pun satelit. Perang masa depan akan semakin sunyi, tanpa ledakan, tetapi berdampak strategis besar.
Pada akhirnya, perang internet antara Iran dan Starlink mengajarkan paradoks klasik strategi perang. Senjata tercanggih bisa menjadi kelemahan paling mematikan bila digunakan di medan yang tidak dipahami. Di langit Iran, ilmu mengalahkan teknologi dan kedaulatan spektrum menjelma menjadi senjata paling senyap, tetapi paling mematikan.





