Bisnis.com, JAKARTA — Danantara Indonesia memperkirakan akan menginvestasikan hingga US$14 miliar atau setara dengan Rp235,48 triliun (kurs Rp16.820 per dolar AS) pada tahun ini.
CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan dana investasi itu diperoleh Danantara dari setoran dividen perusahaan BUMN dan rencana penerbitan obligasi kedua dalam beberapa bulan mendatang.
"Tahun lalu kami sudah berkomitmen sekitar US$8 miliar ... tetapi total tahun ini mencapai US$14 miliar yang harus kami gunakan," kata Pandu dalam Reuters Global Markets Forum di sela-sela World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swis, pada Kamis (22/1/2026).
Pandu mengatakan Danantara telah menerbitkan obligasi 'Patriot Bond' untuk membantu pendanaan. Obligasi itu meraih dana sekitar Rp65 triliun. Menurut Pandu, penerbitan kedua Patriot Bond akan dilaksanakan dalam 1-2 bulan ke depan. Namun, dia mengatakan nilai emisinya diperkirakan akan lebih kecil dan akan bergantung pada permintaan investor.
Dalam 12-24 bulan ke depan, Pandu menambahkan bahwa sektor investasi yang menjadi prioritas Danantara meliputi energi terbarukan dan transisi energi, infrastruktur digital, layanan kesehatan, dan ketahanan pangan. Prioritas tersebut, imbuhnya, sejalan dengan kepentingan 300 juta jiwa rakyat Indonesia.
Pandu juga menyebutkan Danantara berencana untuk mengalokasikan modal di pasar publik dan swasta. Sekitar setengah dari investasinya tahun ini akan masuk ke pasar publik, sebagian besar di Indonesia. Selain itu, Danantara juga mengevaluasi peluang di Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa.
Lebih lanjut, Danantara fokus pada membangun kredibilitas dan standar tata kelola untuk mengurangi krisis kepercayaan di sekitar lembaga-lembaga besar Indonesia.
Danantara telah memperoleh peringkat kredit BBB dari Fitch, sejalan dengan peringkat utang Indonesia. Lembaga yang belum genap berusia 1 tahun itu juga telah menjalin kemitraan senilai sekitar US$45 miliar dengan dana kekayaan negara lainnya, termasuk yang sebelumnya diumumkan dengan Qatar.




