Engkau Adalah  Payung Surgaku

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Surga—tak seorang pun benar-benar pernah melihat seperti apa wujud aslinya. Karena itu, setiap orang menyimpan surga yang berbeda di dalam hatinya masing-masing. Kita semua tahu bahwa di atas kepala kita, selain hamparan alam semesta yang tak berbatas, tidak ada surga secara harfiah. Namun tetap saja, setiap manusia berharap: semoga di langit sana memang ada sebuah surga, persis seperti yang diimpikannya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidup atau setelah mati, aku akan memiliki seluruh surga seperti dalam khayalan. 

Seperti lirik lagu yang pernah dinyanyikan Pan Meichen: “Aku hanya ingin memiliki sebuah rumah, sebuah tempat yang tak perlu terlalu besar.”

Begitu pula aku. Aku tidak menginginkan surga yang utuh. Aku hanya berharap memiliki sebuah payung kecil—payung surga—yang mampu menopang secuil sudut dari surga itu. Sebuah payung yang menahan seluruh angin dan hujan kenyataan, agar aku bisa dengan tenang, di bawah naungannya, membangun sebuah rumah batin tempat harapan dan kerinduan hidup berdampingan.

Di hamparan alam yang luas, aku telah melihat tak terhitung pohon-pohon tinggi menjulang ke langit. Aku juga telah mencium harum berbagai bunga dan rumput liar. Namun semua kemegahan dan keindahan itu tak benar-benar menggugah hatiku.

Sampai suatu hari, di bawah pepohonan yang menjulang dan di antara rerumputan yang rimbun, aku melihat sebuah payung kecil yang nyaris tak berarti—namun fia berusaha sekuat tenaga, dengan tudungnya yang mungil, melindungi sebatang rumput kecil di bawahnya yang lemah dan letih.

Tudung payung itu berwarna cokelat kemerahan yang lembut, tidak mencolok, tidak istimewa. Namun justru karena kesederhanaannya, warna itu terasa jauh lebih menyejukkan mata dibandingkan mawar yang mekar di atas kain putih. Sebab fia menggunakan kehidupan yang sederhana untuk melindungi kehidupan lain yang sama-sama sederhana. Maka aku pun menamai payung kecil berwarna cokelat lembut itu sebagai payung surga.

Aku masih ingat, itu adalah musim gugur terdingin dalam hidupku. Angin kejam menyapu bersih seluruh kemegahan yang pernah kumiliki, tak menyisakan apa pun. “Datang dengan kesucian, pergi pun dengan kesucian,” mengakhiri hidup seperti itu sebenarnya tidak buruk bagi keadaanku saat itu. Bukankah teori evolusi telah lama menjelaskan prinsip “yang mampu bertahan, dialah yang hidup”?

Namun justru di saat penentuan hidup itulah, kamu membentangkan payung surga itu untukku. Kamu membuatku kembali menegakkan punggung, memegang pena di tanganku, dan menulis ulang jalan hidupku.

Kala itu, di mataku, dunia nyata begitu gelap dan buruk rupa. Keburukan yang telanjang membuat orang merasa raga berada di dunia, tetapi hati terperosok ke neraka. Namun sejak kamu mengirimkan payung surga itu, kenyataanku berubah—seolah aku berjalan di tengah hujan musim semi dan bunga aprikot.

Aku seperti memegang payung kecil pemberianmu, berjalan menyusuri gang-gang sempit di perkampungan air selatan, menikmati bunga aprikot yang basah oleh hujan, atau berhenti sejenak di lorong hujan untuk mendengarkan alunan kecapi dan senar. Kegelapan dan keburukan di depan mata berubah menjadi gang-gang basah yang sunyi, dengan suara dayung perahu beratap hitam yang perlahan menyentuh air sungai di sampingnya.

Ada jembatan kecil, ada aliran air, ada rumah-rumah di tepi sungai. Segalanya diselimuti kabut hujan yang lembut. Kenyataan pun menjelma menjadi sebuah lukisan tinta yang indah. Di bawah payungmu, aku membiarkan pikiranku mengembara jauh dalam hujan musim semi yang tak berkesudahan, menikmati sepenuh hati keindahan musim semi di dalam batin.

Melalui musim semi, melewati musim panas, payung surgamu kembali menemaniku menyongsong musim gugur. Angin gugur berdesir, hujan gugur turun perlahan. Dengan tudung kecil payungmu di atas kepalaku, yang kulihat bukan lagi kesedihan musim gugur, melainkan pegunungan yang memerah seluruhnya, hutan yang berlapis warna, perahu-perahu kecil yang berkejaran di atas ombak.

Dengan payung surgamu di sisiku, hatiku tak lagi dipenuhi kesepian pilu khas angin dan hujan musim gugur. Menyaksikan warna musim gugur di tengah gerimis, justru menghadirkan suasana dan perasaan yang sama sekali berbeda.

Memiliki payung surga seperti itu menaungi diri—bahkan saat angin telah reda dan hujan berhenti, aku tetap enggan menutupnya.

Di dunia ini memang ada jenis sahabat seperti itu. Mereka mungkin tidak bisa selalu bersama menyaksikan pasang surut kehidupan, tidak selalu dapat mendengarkan alunan air pegunungan bersama, tidak bisa berbagi hujan musim semi atau daun merah musim gugur, apalagi duduk bersama di malam musim dingin merebus arak di bawah pohon plum.

Namun mereka menyerahkan hati mereka satu sama lain. Aku menjadi bekal terberat dalam perjalanan hidupmu, dan kamu menjadi mimpi paling tulus dalam hidupku. Bahkan ketika rambut hitam telah berubah menjadi uban, keterikatan itu tetap tersimpan dalam-dalam di hati.

Seorang sahabat sejati adalah sebuah payung surga. Dengan payung seperti itu menemani langkahku, bagaimana mungkin hidupku tidak menjadi surga yang paling indah?(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemkot Depok Ingatkan Warga Waspadai Potensi Banjir dan Longsor
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Peringatkan Angin Kencang di Makassar, Gowa, Takalar, Pangkep, Barru, Jeneponto hingga Selayar pada 23 Januari 2026
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Banjir Satu Meter Kembali Rendam Wilayah Aren Jaya Bekasi
• 22 jam laluidntimes.com
thumb
Fenomena Langka! Badai Matahari Dahsyat Terangi Langit Malam Eropa dengan Aurora Borealis
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
Potret Hujan-Longsor di Lokasi Wisata Sejumlah Warga Hilang
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.