Indonesia Tak Kekurangan Talenta Digital, Tapi Kehilangan Arah Pengembangannya

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Setiap kali berbicara tentang masa depan Indonesia, satu istilah yang hampir selalu muncul adalah talenta digital. Kita membanggakannya di forum resmi, mempromosikannya di media sosial, dan menjadikannya tolok ukur kesiapan bangsa menghadapi era teknologi. Pelatihan digital bermunculan, sertifikasi digelar secara masif, dan anak muda berbondong-bondong mempelajari pengembangan perangkat lunak, data, hingga kecerdasan buatan.

Namun, di balik euforia tersebut, terdapat kegelisahan yang jarang dibicarakan. Banyak talenta digital justru kebingungan menentukan arah. Mereka terampil, aktif, dan produktif, tetapi tidak benar-benar memahami sedang dibawa ke mana. Di titik inilah persoalannya bukan terletak pada jumlah talenta, melainkan pada arah pengembangannya.

Selama ini, pengembangan talenta digital di Indonesia masih terlalu berorientasi pada kuantitas. Ukurannya sering kali sebatas jumlah peserta pelatihan, kecepatan lulus, serta seberapa cepat seseorang dianggap “siap kerja”. Pendekatan ini memang terlihat efektif dalam jangka pendek. Namun, ketika pengembangan talenta direduksi hanya menjadi urusan teknis, kita lupa bahwa manusia bukan sekadar mesin yang diprogram untuk menguasai satu keterampilan lalu dilepas ke pasar kerja.

Dampaknya mulai terasa. Banyak talenta digital yang mahir secara teknis, tetapi rapuh secara visi. Mereka cepat belajar, namun juga cepat lelah. Perpindahan peran dan pekerjaan kerap terjadi bukan karena eksplorasi yang matang, melainkan karena kehilangan arah. Peningkatan keterampilan berjalan cepat, tetapi diskusi tentang makna, tujuan, dan tanggung jawab sosial dari teknologi yang dibangun justru minim.

Persoalan ini semakin kompleks karena ketidaksinkronan antara dunia pendidikan dan industri. Perguruan tinggi masih berupaya mengejar relevansi, sementara industri menuntut kesiapan instan. Di tengah kondisi tersebut, talenta digital sering kali dipaksa beradaptasi sendiri. Tidak sedikit yang merasa tertinggal meskipun sebenarnya kompeten. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena sistem belum menyediakan peta pengembangan yang jelas.

Di sisi lain, narasi sukses di ruang digital juga turut membentuk tekanan tersendiri. Media sosial dipenuhi kisah talenta digital yang sukses di usia muda, bergaji tinggi, dan tampak selalu selangkah lebih maju. Narasi ini jarang memberi ruang bagi cerita tentang proses panjang, kegagalan, atau kebingungan yang wajar dialami manusia. Akibatnya, banyak talenta merasa tidak cukup hanya karena perjalanan hidup mereka tidak secepat orang lain.

Padahal, pengembangan talenta digital seharusnya tidak berhenti pada penguasaan hard skill. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi, yang juga membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi, empati, serta kesadaran etis dalam penggunaan teknologi. Tanpa itu, teknologi akan terus berkembang, tetapi manusianya tertinggal.

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar. Anak mudanya adaptif, cepat belajar, dan tidak asing dengan teknologi. Namun, potensi tersebut akan terus terbuang jika kita gagal memberi arah yang jelas. Tanpa visi jangka panjang, talenta digital hanya akan menjadi tenaga terampil yang sibuk, tetapi mudah tergantikan.

Sudah saatnya kita berhenti sekadar menghitung jumlah talenta digital dan mulai bertanya lebih dalam: ingin dibawa ke mana mereka, serta untuk siapa teknologi ini dibangun. Sebab, kemajuan digital sejatinya bukan tentang seberapa canggih sistem yang kita miliki, melainkan seberapa utuh manusia yang mengembangkannya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tinjau Daerah Terdampak Banjir di Aceh Utara, Kasatgas Tito Makan Bersama Pengungsi
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Dipakai Harian di Jakarta, Ini Hitungan Biaya Suzuki Grand Vitara
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Sempat Jebol, Tanggul di Petogogan Jaksel Ditambal Karung Pasir
• 3 jam laludetik.com
thumb
Pengertian Dewan Perdamaian Gaza Ala Donald Trump, Syarat Masuknya Setor Rp17 Triliun
• 3 jam laludisway.id
thumb
Gandeng Solana, IDRX Dorong Tokenisasi RWA Berbasis Rupiah
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.