FAJAR, MAROS — Sebanyak tujuh paket korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 berhasil dievakuasi dari Lereng Gunung Bulusaraung Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep melalui jalur udara, Jumat, 23 Januari 2026 di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin.
Paket kantong jenazah itu dievakuasi menggunakan helikopter milik TNI AU Pangkalan Udara Lanud Sultan Hasanuddin.
Sebelum proses evakuasi pertama dimulai, terlebih dahulu dilakukan Briefing sekitar pukul 06.50 di Base Ops Lanud.
Selanjutnya helikopter jenis Caracal milik TNI AU lepas landas dari Baseops Lanud Sultan Hasanuddin sekitar pukul 08.25 Wita dan tiba di titik lokasi evakuasi sekitar pukul 08.38 Wita.
Proses pengangkatan jenazah dimulai pukul 08.41 Wita.
Kemudian usai evakuasi, helikopter kembali dan mendarat di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin pukul 09.08 Wita.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto memimpin langsung proses evakuasi korban kecelakaan pesawat itu.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto mengatakan sebelumnya ada sekitar enam kantong jenazah yang didapat oleh tim SAR gabungan. Dimana satu diantaranya sudah dievakuasi melalui jalur darat.
“Jadi proses evakuasi sudah kita mulai dari pukul 07.30 Wita. Evakuasi pertama menggunakan pesawat helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara yang saat itu kebetulan saya pimpin langsung,” katanya.
Dia menjelaskan kondisi lokasi penjemputan yang sangat berisiko.
“Limitasi tempatnya sangat rapat, berada di lereng mendekati tebing. Ini memerlukan skill dan profesionalitas penerbang yang sangat tinggi,” jelasnya.
Saat proses evakuasi helikopter berada sangat dekat dengan tebing dan pepohonan, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan kru.
“Helikopter sudah mendekati tebing dan pohon-pohon. Risikonya sangat tinggi, sehingga kami putuskan hanya menjemput dua jenazah terlebih dahulu dalam proses evakuasi pertama,” jelasnya.
Menyoal durasi evakuasi, dia menjelaskan waktu tempuh menuju lokasi hanya sekitar delapan menit, namun proses pengangkatan jenazah memakan waktu lebih dari 30 menit.
“Helikopter harus hovering di sisi tebing, sangat merapat, dengan kondisi angin dan pepohonan di sekitar lokasi,” katanya.
Kemudian proses evakuasi kedua dilakukan oleh helikopter Dolphin dari Basarnas yang mengangkut satu jenazah.
“Heli Caracal terbang kembali mengambil jenazah yang kedua sehingga total lima jenazah sudah kita ambil sekitar pukul 10.30 Wita,” sebutnya.
Saat kita mengevakuasi jenazah, ada informasi penemuan dua body part jenazah baru.
“Jadi dua kantong jenazah yang posisi satunya ada di 50 meter penjemputan, yang satu lagi ada di 100 meter penjemputan,” katanya.
Sehingga dengan waktu tidak lebih dari 2 jam, dua jenazah itu sudah kami ambil dengan menggunakan dua sorti penerbangan.
“Untuk evakuasi pertama satu kantong jenazah diangkut menggunakan helikopter Basarnas. Jadi kita memaksimalkan jendela cuaca yang sangat bisa mendukung. Yang mana bahwa perubahan cuaca di Sulawesi Selatan ini cepat berubah sehingga kebetulan cuaca masih bagus maka segera kita pick up satu jenazah dan sudah mendarat,” jelasnya.
Kemudian satu paket terakhir berhasil dievakuasi dan tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin, sekitar pukul 13.15 Wita menggubakan jelikooter caracal TNI Angkatan Udara.
“Jenazah terakhir yang 100 meter dari lokasi penjemputan sudah bisa kita evakuasi dengan menggunakan helikopter Caracal TNI Angkatan Udara. Sehingga sampai saat ini sudah ada 11 kantong jenazah yang dievakuasi. Selanjutnya kita kirim ke Biddokkes Sulawesi Selatan untuk tindak lanjut berikutnya,” ungkapnya.
Diakuinya, kendala yang dihadapi yakni medan yang sangat terjal.
“Juga posisi kita menjemput atau mengevakuasi jenazah tadi adalah tanah kosong yang tidak begitu luas dan ada di tebing lereng yang kemiringannya sekitar 90 derajat di tebing. Sehingga harus didukungvoleh cuaca yang bagus dan keterampilan seorang penerbang agar mampu serapat-rapatnya mendekati tebing,” jelasnya.(rin)





