REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak melemah dan turun ke bawah level 90 ribu dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global menyusul perkembangan geopolitik serta gejolak di pasar keuangan internasional yang mendorong sikap risk-off di berbagai kelas aset.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran 87.000 dolar AS sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga merembet ke pasar saham global. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi bergejolak dan harga emas menguat sebagai aset lindung nilai.
- Transparansi Bursa Kripto Jadi Sorotan, Proof of Reserve Dinilai Krusial
- Industri Kripto Perluas Kolaborasi Lintas Sektor
Vice President Indodax Antony Kusuma menilai pergerakan Bitcoin tersebut mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.
“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam siaran pers, Jumat (23/1/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut Antony, tekanan jangka pendek sering muncul ketika investor global menyesuaikan kembali komposisi portofolio di tengah ketidakpastian. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.
“Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.
Ia menambahkan, semakin besarnya peran investor institusional membuat pergerakan Bitcoin menjadi lebih responsif terhadap sentimen global.
“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” kata Antony.
Meski demikian, Antony menegaskan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Karena itu, ia menilai investor perlu mencermati pergerakan harga secara lebih menyeluruh dan tidak terpaku pada fluktuasi jangka pendek.
“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” kata Antony.
Ia juga mengingatkan bahwa volatilitas tinggi kerap memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam kondisi tersebut, Antony menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.




