Perusahaan induk, Freeport McMoran (FCX) mencatat produksi tembaga dan emas PT Freeport Indonesia (PTFI) menurun sepanjang tahun 2025 imbas longsor tambang bawah tanah di Grassberg Block Cave (GBC), yang diprediksi baru beroperasi pada kuartal II 2026.
Dalam laporan keuangan Freeport McMoran yang dikutip kumparan pada Jumat (23/1), PTFI mengoperasikan tiga tambang bawah tanah berskala besar di distrik mineral Grasberg, yakni Grasberg Block Cave, Deep Mill Level Zone (DMLZ), dan Big Gossan.
Pada level operasi normal, pertambangan PTFI menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun, termasuk di antara operasi dengan biaya terendah di dunia.
Namun, produksinya menurun dari 1.800 miliar pon pada 2024 menjadi 1,015 miliar pon tembaga pada 2025. Sementara itu, produksi emas juga turun menjadi 937 ribu ounce (1 ounce setara 28,35 gram.) emas pada 2025 dari sebelumnya 1,86 miliar ounce pada 2024.
"Produksi sebesar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ounce emas selama tahun 2025 terutama mencerminkan dampak dari penghentian sementara operasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave sejak September 2025, yang diharapkan akan dimulai kembali pada kuartal II tahun 2026," tulis laporan tersebut, dikutip pada Jumat (23/1).
Perusahaan mencatat, volume penjualan konsolidasi PTFI sebesar 112 juta pon tembaga dan 75 ribu ounce emas pada kuartal IV 2025, turun secara signifikan dari volume penjualan kuartal IV 2024 sebesar 376 juta pon tembaga dan 343 ribu ounce emas.
Sementara itu, kredit kas bersih unit PTFI sebesar USD 0,74 per pon tembaga pada kuartal IV 2025 lebih menguntungkan dibandingkan USD 0,08 per pon tembaga pada kuartal IV 2024, terutama mencerminkan kredit produk sampingan yang lebih tinggi dan bea ekspor yang lebih rendah, sebagian diimbangi oleh volume tembaga yang lebih rendah.
Namun, kredit kas bersih unit PTFI tidak termasuk biaya fasilitas yang menganggur dan biaya pemulihan langsung yang terkait dengan insiden longsor yang berjumlah USD 454 juta pada kuartal IV 2025 dan USD 625 juta untuk tahun 2025.
"Volume penjualan konsolidasi dari PTFI berjumlah 1,2 miliar pon tembaga dan 1,1 juta ounce emas untuk tahun 2025, melebihi produksi sebesar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ounce emas," jelas perusahaan.
Setelah insiden longsoran lumpur pada 8 September 2025, PTFI telah mempersiapkan pengaktifan kembali operasi yang aman dan berkelanjutan. Pada akhir Oktober 2025, PTFI memulai kembali operasi di tambang bawah tanah DMLZ dan Big Gossan yang tidak terpengaruh.
Target Produksi 2026
Sementara peningkatan produksi tambang bawah tanah GBC diperkirakan akan dimulai pada kuartal II tahun 2026. Rencana tersebut mencakup dimulainya kembali Blok Produksi 2 dan 3 pada kuartal II tahun 2026 dan potensi dimulainya kembali operasi di Blok Produksi 1 selama tahun 2027.
Berdasarkan perkiraan saat ini, PTFI memperkirakan sekitar 85 persen dari total produksinya pada tingkat operasi normal akan dipulihkan pada paruh kedua tahun 2026.
Selain itu, PTFI berupaya mendapatkan ganti rugi berdasarkan polis asuransi properti dan gangguan bisnisnya, yang mencakup kerugian hingga USD 1,0 miliar, dengan batasan USD 0,7 miliar untuk insiden bawah tanah, setelah dikurangi biaya klaim sebesar USD 0,5 miliar.
Pada tahun 2026, volume produksi tembaga dan emas PTFI diperkirakan akan melebihi volume penjualan, yang mencerminkan penundaan sekitar 100 juta pon tembaga dan 100 ribu ounce emas yang terkait dengan persediaan yang disimpan di operasi peleburan PTFI.
Kemudian, volume penjualan konsolidasi dari PTFI diperkirakan mencapai sekitar 0,9 miliar pon tembaga dan 0,8 juta ounce emas untuk tahun 2026. Berdasarkan perkiraan saat ini, sekitar 78 persen penjualan tembaga PTFI dan 75 persen penjualan emas PTFI pada tahun 2026 diperkirakan terjadi pada paruh kedua, setelah dimulainya kembali dan peningkatan bertahap tambang bawah GBC.


