Cuaca ekstrem yang melanda Jabodetabek dalam beberapa waktu terakhir telah menyebabkan sejumlah perubahan yang berdampak pada lingkungan dan aktivitas masyarakat, kondisi ini juga dinilai berisiko memengaruhi kesehatan masyarakat.
Prof. Dr. Erlina Burhan, seorang Guru Besar di bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dari Universitas Indonesia, menjelaskan cuaca ektrem berupa hujan berkepanjangan yang terjadi belakangan ini berdampak pada perubahan suhu dan kelembapan udara.
Salah satu risiko utama yang muncul akibat cuaca ekstrem ini adalah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi lingkungan yang dingin dan lembap membuat bakteri dan virus penyebab ISPA dapat berkembang dengan lebih baik. Pada saat daya tahan tubuh menurun, paparan udara yang tidak sehat dapat mengganggu fungsi pertahanan alami saluran napas, sehingga bakteri dan virus lebih mudah menginfeksi tubuh.
Perlu diperhatikan kelompok-kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit kronis atau gangguan kekebalan tubuh, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gejala yang lebih berat atau komplikasi.
Untuk mengurangi risiko terkena penyakit pernapasan selama cuaca ekstrem, penting bagi masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Ini mencakup berbagai aspek, mulai rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, serta olahraga scara teratur.
Peringatan dari BMKG dan MitigasiBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai potensi peningkatan cuaca ekstrem di wilayah Indonesia.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprakirakan mengalami peningkatan intensitas hujan menjelang akhir Januari 2026.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, kondisi cuaca sepekan ke depan dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah munculnya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam serta tekanan udara 1001 hPa.
Ia menjelaskan, pergerakan Bibit Siklon Tropis 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatera hingga Nusa Tenggara. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.
Selain itu, Monsun Asia diperkirakan menguat hingga 23 Januari 2026 dan disertai dengan seruakan udara dingin atau cold surge dari daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan serta memicu pertumbuhan awan hujan secara luas di wilayah selatan khatulistiwa.
BMKG juga mencatat aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif. Kondisi ini memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus di atmosfer.
Seluruh faktor tersebut berpadu dengan kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan.




