PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak usaha Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), memperkenalkan inovasi digital Mechanic Smart Assistant (MSA) aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat proses identifikasi fault code dan event code pada peralatan Rubber Tyred Gantry (RTG), Container Crane (CC), serta Mechanical Equipment (ME).
Sukarsono, Leader Shift Group D RTG TPS mengatakan, pengembangan MSA merupakan langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan potensi kerugian akibat waktu henti peralatan, karena selama ini mekanik memerlukan waktu antara 30 hingga 60 menit untuk menelusuri arti kode gangguan melalui buku manual maupun basis data terpisah. Proses tersebut menimbulkan inefisiensi waktu hingga 6,45 jam setiap bulan, dengan estimasi potensi kerugian mencapai Rp354,6 juta per tahun.
MSA, kata dia, dirancang berdasarkan pengalaman langsung mekanik yang kerap menghadapi berbagai gangguan teknis secara bersamaan di lapangan. Platform tersebut memungkinkan mekanik mengakses informasi teknis secara cepat melalui perangkat seluler maupun komputer.
“Mekanik sering kesulitan mencari arti kode gangguan. Dengan MSA, proses tersebut dapat dilakukan jauh lebih cepat,” katanya dalam peluncuran di Surabaya, pada Jumat (23/1/2026).
Melalui pemanfaatan MSA, proses diagnosis bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari dua menit. Ia menyebut, kehadiran aplikasi itu juga mampu mempercepat proses pembelajaran mekanik, khususnya generasi muda yang terbiasa dengan teknologi digital. Waktu pembelajaran yang sebelumnya membutuhkan lebih dari enam bulan kini dapat dipangkas menjadi kurang dari tiga bulan.
MSA diproyeksikan menjadi bagian penting dari agenda transformasi digital TPS, terutama dalam standardisasi proses Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance.
Pengembangan MSA disusun dalam empat tahap. Tahap pertama berlangsung selama 3-6 bulan dengan fokus implementasi awal pada RTG melalui chatbot dan basis data terbatas. Tahap kedua, yaitu pengembangan produk lengkap, dijadwalkan selama 6-12 bulan untuk memperkuat basis pengetahuan dan fitur diagnosis. Tahap ketiga berupa roll out membutuhkan waktu 1-3 tahun untuk ekspansi ke RTG, CC, dan ME dengan dukungan kapasitas server yang lebih besar. Tahap keempat adalah komersialisasi, dengan rentang waktu 3-5 tahun untuk penerapan di seluruh Pelindo Group serta pengembangan potensi bisnis.
Dalam pengembangannya, TPS memperhatikan mitigasi risiko, antara lain potensi kesalahan interpretasi data, kebutuhan validasi solusi, serta standardisasi basis pengetahuan. Sistem MSA juga dibangun menggunakan teknologi AI berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG) guna meminimalkan tingkat kesalahan informasi.
Ia menyebut, penerapan MSA memberikan berbagai manfaat strategis, di antaranya pengurangan downtime peralatan, percepatan proses perbaikan, standarisasi langkah troubleshooting, dokumentasi solusi secara digital, dukungan terhadap program Predictive Maintenance, serta peningkatan akurasi dan konsistensi pengambilan keputusan teknis.
Selain mudah direplikasi, MSA juga dinilai berpotensi menjadi model pengembangan teknologi di lingkungan Pelindo Group. Aplikasi ini merupakan hasil kolaborasi antara mekanik dan tim teknologi informasi TPS. MSA dikembangkan sebagai “asisten digital” bagi mekanik dalam mempercepat penanganan gangguan peralatan.
Adhi Kresna Novianto Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan TPS, menyampaikan bahwa peluncuran MSA menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi digital sekaligus meningkatkan keandalan operasional terminal. Ia menilai, tantangan utama dalam perawatan peralatan selama ini adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi kode gangguan.
Dengan MSA, proses diagnosis yang sebelumnya memakan waktu hingga satu jam kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit, sehingga memberikan efisiensi signifikan bagi kelancaran operasional TPS.
“MSA tidak hanya menjawab kebutuhan teknis di lapangan, tetapi juga mencerminkan komitmen TPS dalam membangun budaya kerja yang modern, adaptif, dan berbasis teknologi. Integrasi kecerdasan buatan memastikan mekanik memperoleh akses cepat terhadap informasi teknis yang akurat dan terstandar, sejalan dengan karakter generasi mekanik saat ini yang lebih dekat dengan perangkat digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan MSA masuk dalam jajaran The Best Six inovasi di lingkungan Subholding Pelindo Terminal Petikemas menjadi bukti bahwa inovasi ini relevan, solutif, dan memiliki potensi pengembangan yang luas.
Pihaknya optimistis, TPS bisa direplikasi di unit Pelindo Group lainnya serta menjadi contoh pengembangan teknologi yang mendukung produktivitas dan keselamatan kerja.
“TPS akan terus mendorong inovasi yang memberikan dampak nyata bagi pelanggan dan pemangku kepentingan. MSA merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mewujudkan operasional terminal yang lebih efisien, aman, dan berdaya saing di era digital,” pungkasnya.(ris/iss)




