Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan migas asal Jepang, Inpex Corporation (Inpex), berkomitmen untuk mempercepat pengembangan Proyek LNG Abadi, Blok Masela di Indonesia.
Langkah ini diambil guna memenuhi permintaan pemerintah Indonesia sekaligus merespons tingginya minat dari perusahaan raksasa (supermajor) Barat terhadap pasokan gas alam cair alias LNG.
CEO Inpex Takayuki Ueda mengatakan bahwa proyek senilai US$20 miliar atau setara Rp336,78 triliun (asumsi kurs Rp16.839 per US$) tersebut akan menjadi mesin pertumbuhan utama bagi Inpex.
Menurutnya, proyek ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 9,5 juta metrik ton LNG per tahun.
"Kami akan melakukan segala upaya untuk mempercepat proyek ini," ujar Ueda dikutip dari Reuters, Jumat (23/1/2026).
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah meminta Inpex untuk mengakselerasi jadwal pengembangan guna mengantisipasi lonjakan permintaan gas domestik yang tumbuh pesat.
Saat ini, Inpex menargetkan keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) pada 2027, dengan target operasional (start-up) pada awal 2030-an.
Ueda mengungkapkan, importir Asia serta perusahaan-perusahaan besar Barat sangat berminat mengamankan pasokan LNG dari Blok Masela. Hal tersebut didorong oleh kebutuhan listrik yang melonjak pada 2030-an akibat ekspansi pusat data (data center) serta faktor ketahanan energi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
"Meski saat ini masih dalam tahap pernyataan minat non-mengikat [non-binding expression of interest], kami sudah melihat ketertarikan yang sangat kuat dari negara-negara Asia hingga perusahaan supermajor," imbuh Ueda.
Inpex mengelola Blok Masela melalui anak usahanya, Inpex Masela, Ltd. Inpex mengelola Lapangan Gas Abadi dengan hak partisipasi 65%, bersama mitra PT Pertamina Hulu Energi Masela (20%) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15%).
Inpex telah memulai tahapan desain rekayasa teknis atau front-end engineering design (FEED) secara menyeluruh pada September 2025 lalu. Namun, Ueda mengakui bahwa kenaikan biaya konstruksi menjadi tantangan tersendiri.
Terkait profitabilitas, perusahaan membidik tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) sekitar 15%. Inpex membuka peluang untuk bernegosiasi kembali dengan pemerintah Indonesia guna mendapatkan insentif tambahan, seperti dukungan pajak, jika target IRR tersebut sulit tercapai.
Adapun, Proyek LNG Abadi mencakup pembangunan dua train OLNG dengan total kapasitas produksi sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (mtpa), penyaluran gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) untuk kebutuhan domestik, dan produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari (bcpd).
Selain untuk ekspor, hasil LNG dari Blok Abadi juga bakal diserap oleh tiga badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga perusahaan pelat merah itu yakni PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk LNG, dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk gas bumi.
Selain fokus di Indonesia, Inpex juga tengah berburu sumber gas baru di Australia untuk memasok kilang LNG Ichthys tahap ketiga serta mengisi kembali (backfill) kapasitas produksi yang ada di Darwin.
"Kami menargetkan produksi Ichthys dapat terus berlanjut hingga melampaui tahun 2050. Saat ini, kami sedang menjajaki berbagai opsi," kata Ueda.
Inpex telah mengamankan beberapa aset seperti lapangan gas Cash Maple dan lapangan lain yang sudah ditemukan namun belum dikembangkan. Perusahaan juga menyatakan ketertarikannya pada Cekungan Beetaloo (Beetaloo Basin) di Wilayah Utara Australia untuk potensi gas serpih (shale gas).
"Kami terus mempelajari potensi gas di kawasan tersebut," pungkasnya.
Baca Juga
- Masela Jadi Proyek LNG Pertama Pakai Teknologi CCS, Investasi Rp342 Triliun
- Inpex Bidik Pasar Asia untuk Gas Blok Masela, Jepang hingga Taiwan Masuk Radar
- Blok Masela Dikebut, Desain Teknis Ditenggat Rampung Desember 2025





