Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meninjau langsung progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Peninjauan dilakukan bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk memastikan percepatan pemulihan pascabencana.
BNPB menargetkan seluruh pengungsi tidak lagi tinggal di tenda pengungsian pada 18 Februari 2026, atau menjelang Ramadan. Pengungsi akan dipindahkan ke huntara, sementara sebagian lainnya memilih tinggal sementara di rumah keluarga atau kerabat.
“Hunian sementara yang dibangun di Aceh Utara sebanyak 4.000 unit. Ini kami asumsikan sebagai tahap awal menuju hunian tetap. Progres saat ini sekitar 30 persen,” kata Suharyanto saat meninjau lokasi pengungsian di Desa Bukit Lintang, Kecamatan Langkahan, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pengungsi yang tinggal di rumah keluarga akan menerima dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per kepala keluarga per bulan selama enam bulan. Dalam periode tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan hunian tetap dapat diselesaikan.
“Tantangannya jumlahnya sangat besar, sehingga harus dikerjakan dalam waktu yang cepat,” ujar Suharyanto.
Pembangunan huntara melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan sejumlah lembaga lainnya. Suharyanto optimistis sebelum Ramadan tidak ada lagi pengungsi yang bertahan di tenda darurat.
“Target kami, 18 Februari sudah tidak ada lagi pengungsi di tenda,” ucap Suharyanto.
Usai meninjau pembangunan hunian, Kepala BNPB juga menyusuri aliran Sungai Jambo Aye di Desa Seulemak menggunakan perahu bermesin untuk melihat langsung titik-titik terdampak banjir besar pada 25 November 2025 yang belum dapat dijangkau melalui jalur darat.
Langkah percepatan pembangunan hunian ini menjadi krusial mengingat ribuan warga masih terdampak banjir dan membutuhkan kepastian tempat tinggal yang layak, sekaligus menjadi ujian koordinasi lintas lembaga dalam pemulihan pascabencana di Aceh Utara.
Editor: Redaksi TVRINews


