Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Pemerintah fasis Italia memanfaatkan Piala Dunia 1934 untuk alat propaganda sang pemimpin, Benito Mussolini, dan berhasil.
Pada dekade 1930-an, salah satu ideologi populer adalah fasisme. Saat itu, Italia menjadi salah satu yang mengadopsi sistem pemerintahan fasis.
Di bawah kepemimpinan Benito Mussolini, Italia memiliki seorang pemimpin yang bersemangat menggunakan segala cara untuk menyebarkan pesan “kekaisaran” Italia-nya.
Karena itulah ketika FIFA memberikan kesempatan Piala Dunia 1934 digelar di Italia, hal itu dipandang sebagai alat propaganda yang ideal bagi Il Duce, sebutan atau julukan untuk Mussolini yang berarti pemimpin. Alhasil, Mussolini pun meminta agar Timnas Italia harus menang dengan segala cara.
Untungnya, di bawah kepemimpinan Vittorio Pozzo, Italia memiliki pelatih visioner. Il Vecchio Maestro – julukan Pozzo yang berarti sang Guru Tua – adalah seorang pelajar sepak bola Eropa yang berpengalaman dan merupakan salah satu pelatih taktik sejati pertama.
Saat itu, setelah kesuksesan turnamen pertama yang berlangsung di Uruguai, empat tahun sebelumnya (1930), banyak negara lain ingin berpartisipasi.
Inggris, yang berselisih dengan FIFA, masih menolak untuk berpartisipasi. Alhasil hanya empat negara non-Eropa, yakni Amerika Serikat (AS), Brasil, Argentina, dan Mesir, yang mendaftar. Namun, fase kualifikasi kini diperlukan.
Juara bertahan Uruguay menolak untuk melakukan perjalanan ke Italia sebagai respons “balas dendam” atas kurangnya keterlibatan negara-negara Eropa pada tahun 1930.
Bahkan Italia selaku tuan rumahpun harus melewati kualifikasi, yang akhirnya mampu mereka lakukan dengan mudah. —dan mereka mengambil tempat di turnamen sistem gugur sederhana yang diikuti 16 tim.
Korban paling terkenal di babak pertama (16 besar) ini adalah tim tangguh yang juga runner-up turnamen sebelumnya, Argentina. Mereka kalah dari Swedia, 2-3.
Saat itu, Argentina memang kehilangan sejumlah pemain top seperti Raimundo Orsi, Enrique Guaita, dan Luis Monti ke Italia, yang memanggil mereka karena mereka adalah Oriundi (keturunan Italia).
Monti adalah andalan pertahanan Argentina dan terbukti demikian untuk tim Pozzo. Di perempat final, Italia berhasil mengalahkan Spanyol setelah pertandingan ulang.
Itu terjadi setelah mereka mencederai kiper Spanyol yang luar biasa, Ricardo Zamora—yang masih dianggap banyak orang sebagai kiper terbaik mereka sepanjang masa—pada pertemuan pertama.
Di semifinal, Italia menghadapi skuad Austria yang hebat, dipimpin oleh penyerang ramping Matthias Sindelar. Sekali lagi, Italia keluar sebagai pemenang tipis dengan gol penting dari Oriundo Guaita.
Keberhasilan Gli Azzurri sangat membantu melancarkan mesin propaganda Mussolini dan penyerang tengah Giuseppe Meazza yang kini menjadi pahlawan nasional Italia.
Di pertandingan final, Italia menghadapi Cekoslowakia, yang diperkuat Oldrich Nejedly yang sedang dalam performa mencetak gol yang gemilang.
Antonin Puc membawa Ceko unggul pada menit ke-70. Namun, rekan-rekannya melewatkan beberapa peluang untuk memperbesar keunggulan.
Situasi semakin genting bagi tim asuhan Pozzo. Tetapi momen brilian membuat mereka menyamakan kedudukan. Orsi mengecoh seluruh pertahanan Ceko dengan kaki kirinya dan melepaskan tendangan lob yang menakjubkan dengan kaki kanannya.
Menariknya, ketika diminta untuk mengulangi trik tersebut dalam latihan beberapa hari kemudian di hadapan para fotografer, Orsi tidak mampu melakukannya.
Kebugaran yang ditanamkan Pozzo pada timnya membuahkan hasil di babak perpanjangan waktu.
Meazza, yang sebelumnya hanya menjadi pemain sayap karena cedera, mendapatkan bola. Ia mengumpan kepada Guaita, yang kemudian mengoper kepada penyerang tengah Angelo Schiavio. Schiavio melepaskan tembakan cepat melewati kiper dan kapten Ceko, Frantisek Planicka, untuk menentukan kemenangan bagi Italia, 2-1, di hadapan 55 ribu penggemar di Stadio PNF Roma.
Italia akhirnya merebut gelar pertamanya – dari total empat – di Piala Dunia. Il Duce pun tersenyum puas karena keinginan hati dan ambisinya sudah tercapai.
Sekilas Piala Dunia 1934
Pemenang: Italia
Jumlah tim peserta: 16
Jumlah tim di kualifikasi: 32
Tim elite yang absen: Uruguai, Inggris
Tim kejutan: Mesir
Sepatu emas: Oldrich Nejedly (Cekoslowakia) - 5
Statistik: Total 70 gol dibuat (4,12 per laga); Italia (12) mencetak gol terbanyak
Format: Langsung knockout (langsung dimulai dari 16 besar), laga diulang jika hasil imbang
Jumlah pertandingan: 17
Inovasi
- Seperti tim lainnya, skuad tuan rumah harus melewati kualifikasi.
- Laga ulang harus dilakukan jika pertandingan berakhir imbang.
Kontroversi
- Uruguai, sang juara bertahan, menolak turun sebagai balasan penolakan Italia untuk turun pada turnamen empat tahun sebelumnya.
Trivia
- Luis Monti, yang bermain untuk Argentina di laga final Piala Dunia 1930, berpindah tim ke Italia di final 1934.
- Laga kualifikasi terakhir antara AS melawan Meksiko digelar di Roma, hanya tiga hari sebelum laga pertama putaran final dilangsungkan.
- Pemain Italia Luigi Allemandi yang sebelumnya dilarang turun seumur hidup karena kasus suap, bisa dimainkan saat putaran final dilangsungkan.
- Laga ulang perempat final antara Italia kontra Spanyol digelar hanya 24 jam setelah pertandingan pertama digelar.
Editor: Tri Cahyo Nugroho




