Tren fashion datang dan pergi, menghadirkan beragam siluet, warna, dan gaya yang tak selalu mudah—atau terjangkau—untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah aksesori berperan penting sebagai elemen yang mampu menjembatani tren dan realitas.
Hanya dengan imbuhan anting, kacamata, atau penutup kepala, keseluruhan penampilan dapat berubah signifikan meski mengenakan busana yang sama.
Aksesori tak hanya digemari oleh para pemburu tren, tetapi juga mereka yang mengusung gaya klasik dan ingin tampil lebih segar tanpa kehilangan identitas personal. Fleksibilitas ini menjadikan aksesori elemen penting dalam membangun tampilan.
Tak heran jika para desainer berlomba menghadirkan aksesori yang tak cuma mencuri perhatian, tetapi juga menawarkan solusi praktis dalam berpakaian.
Simak tren-tren aksesori 2026 dari deretan panggung runway:
Zaman KeemasanKarya anak negeri Tulola bertajuk Warisan merupakan penghormatan pada leluhur dan ikatan generasi penerusnya. Rangkaian kelopak bunga keemasan tersebar di hiasan kepala, tersemat di antara juntaian rantai tubuh dan terpatri di sekujur tas, menggambarkan hubungan ini.
Aksesori celup emas ini tak hanya tampil sebagai imbuhan, tapi jadi bintang utama. Padankan dengan gaun atau setelan monokromatik untuk menghasilkan tampilan yang maksimal.
Anting KebesaranPenggemar drama dalam kehidupan dimanjakan dengan panggung Saint Laurent ciptaan Anthony Vaccarello. Siluet serba kebesaran; bahu besar, dasi ikat pita besar, gaun longgar, dan yang mencolok mata: anting emas bertatah mutiara dan batu permata aneka warna segalanya berukuran XL.
Tampaknya salah satu cara bertahan di tengah hiruk pikuk tren dan jeratan media sosial adalah melihat hal dengan kaca pembesar dan membuat drama di kehidupan sendiri.
Aneka TopiBisa jadi kemarakan aneka bentuk topi di panggung runway dipicu oleh protes para desainer terhadap kemalasan gaya perempuan bertopi baseball yang subur belakangan ini. Jonathan Anderson dalam debutnya di Dior menghidupkan kembali topi tricorne bersudut tiga, yang khas abad ke-18.
Pillbox hat, sesuai namanya, menyerupai kotak obat pil, dengan sisi lurus tegak tanpa pinggiran–dipopulerkan oleh Jacqueline Kennedy, tampil dalam panggung Altuzarra.
Sementara itu, duo Jack McCollough dan Lazaro Hernandez dalam Loewe memberi kesegaran warna dan sportivitas lewat topi yang menutup dahi dan tengkuk.
Pengekang DadaUntuk musim semi tahun depan, direktris kreatif Hermès Nadège Vanhée membawa spirit cowgirl yang sensual lewat kehadiran harness atau sabuk pengekang. Ia menyulap kehalusan kulit domba ke dalam berbagai bentuk pengekang dada.
Terkadang diaplikasikan di atas sampiran scarf Hermès, di bawah kemben atau sebagai pemberat jaket dan blazer. Semangat pacuan kuda memanglah sentral dalam narasi rumah mode ini, dan kali ini, keseksian menjadi sudut pandang baru.
Manik-manik LogamDi panggung Jakarta Fashion Week, label Isshu mengolah manik-manik logam ke dalam karyanya Realness. Butir-butir warna perak ini hadir dalam berbagai wujud.
Sebagai detail ornamen kancing dan taburan di sana-sini pada gaun putih, terjalin dalam bentuk kalung dan gelang lengan atau terwujud dalam karya kerajinan yang mandiri seperti tas dan gaun zirah. Kilatan logam dan kontras warna menguatkan keseluruhan koleksi.
Kacamata Penuh WarnaDuo Miuccia Prada dan Raf Simons meminjam celemek yang bersahaja dari wanita pekerja dan menggubahnya ke dalam koleksi yang gaya. Melengkapi seri ini, kacamata hitam dengan bingkai warna-warni menjadi bagian dari abstraksi keseharian.
Dengan warna hitam pekat, bingkai tipis dan gagang lebar di kedua sisi, model ini mungkin tak untuk kebanyakan tipe wajah. Yang jelas, jika bicara tentang pasar kacamata di antara deretan rumah-rumah mode, Miu Miu termasuk salah satu yang terdepan.
Penulis: Rifina Marie



