Bisnis.com, MAKASSAR - Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengakui modifikasi cuaca yang dilakukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) mempermudah pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500.
Kondisi cuaca yang sebelumnya didominasi hujan dan kabut tebal, dikatakannya, sempat menjadi kendala utama tim SAR gabungan, terutama untuk operasi udara.
Setelah modifikasi cuaca dilakukan, risiko prediksi cuaca buruk mampu dikurangi sekitar 30%, sehingga memungkinkan penggunaan helikopter dalam proses evakuasi.
"Membaiknya cuaca merupakan hasil pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, sehingga pencarian dan evakuasi korban jadi lebih optimal," ucap Syafii, Jumat (23/1/2026).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel Amson Padolo mengatakan operasi modifikasi cuaca dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Angkatan Udara sejak Selasa, 20 Januari 2026.
Setiap sortie dilakukan dengan menyebarkan sekitar 1 ton bahan semai berupa kalsium oksida (CaO) dari udara menggunakan pesawat Cessna.
Baca Juga
- Seluruh Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan
- Investigasi Black Box Pesawat ATR 42-500 Diperkirakan Selesai 5 hingga 10 Hari
- Kronologi Penemuan 6 Korban Pesawat ATR 42-500, Satu Berhasil Dievakuasi
"Kita bersyukur proses modifikasi cuaca yang dilaksanakan BMKG bersama Pemprov Sulsel membawa hasil yang signifikan dalam mengurangi turunnya hujan dan mengurai kabut di lokasi pencarian, sehingga memberi hasil yang positif bagi pergerakan tim SAR gabungan," ujarnya.
Diketahui, tim SAR gabungan telah menemukan seluruh korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 hingga hari ketujuh pencarian.
Proses evakuasi telah dilakukan dan saat ini semua jenazah korban yang baru ditemukan telah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi.





