Panen Raya di Grobogan dan Kendal Jateng, Produksi Jagung Petani Lampaui Rata-Rata Nasional

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Sektor pertanian di Jawa Tengah menunjukkan tren positif dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Melalui panen raya di Kabupaten Grobogan dan Kendal, para petani berhasil meningkatkan produktivitas jagung hingga mencapai 6-7 ton per hektare. 

Angka ini tercatat melampaui rata-rata produksi nasional yang berada di level 5,93 ton per hektare.

Peningkatan hasil panen sebesar 15 persen ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani, dengan kenaikan pendapatan rata-rata mencapai 20 persen per musim tanam. 

Capaian ini menjadi krusial mengingat Jawa Tengah merupakan kontributor jagung terbesar kedua di Indonesia dengan estimasi produksi mencapai 3,18 juta ton.

Mateus Barros, Cluster Lead East Asia & Pakistan Bayer Crop Science, menekankan peran vital petani dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan iklim.

“Petani jagung berada di jantung upaya peningkatan produksi pangan. Akses terhadap teknologi benih yang andal serta praktik budidaya yang tepat sangat penting untuk menjaga produktivitas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kesuksesan panen ini didorong oleh penggunaan benih hibrida varietas Dekalb serta pendampingan teknis yang intensif. 

Pola budidaya yang tepat, mulai dari penanaman hingga pengendalian hama, terbukti mampu menjaga stabilitas pasokan jagung yang menjadi bahan baku utama industri pangan dan pakan ternak nasional.

Country Commercial Lead Bayer Crop Science Indonesia dan Malaysia, Yuchen Li, menambahkan bahwa kualitas benih harus berjalan beriringan dengan edukasi di lapangan.

“Benih berkualitas tinggi harus didukung dengan pendampingan teknis yang konsisten, akses informasi, serta praktik pertanian yang lebih baik untuk memastikan produktivitas berkelanjutan,” jelasnya.

Manfaat program pendampingan ini dirasakan langsung Zakaria, petani asal Kecamatan Gemuh, Kendal. Ia mengaku hasil tanamnya kini lebih stabil dan terukur.

“Saya bisa melihat perbedaannya langsung di demoplot. Dari cara tanam, pemupukan, sampai pengendalian hama. Hasilnya lebih bagus dan konsisten,” ungkap Zakaria.

Senada dengan itu, Kusnandar, petani dari Kecamatan Brati, Grobogan, menyatakan bahwa pembuktian langsung di lapangan lebih efektif bagi petani.

“Sulit kalau hanya mengandalkan teori, tapi begitu melihat tanaman tumbuh bagus di lapangan, baru benar-benar percaya,” katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Di Balik Piring Bergizi, Ada Guru yang Terabaikan
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Air Dingin dan Keruh, Ribuan Ikan di Waduk Jatiluhur Mati
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Izin Impor Daging Sapi Terbit, BUMN Dapat Jatah 250 Ribu Ton
• 58 menit lalurealita.co
thumb
Universitas BSI Buka Pendaftaran 2026, Simak Cara Daftar dan Periodenya!
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Legislator DKI: Penanganan Banjir Jakarta Harus Preventif
• 33 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.