Danantara mulai menggelontorkan dana jumbo senilai USD12 miliar atau setara Rp202 triliun ke berbagai sektor prioritas.
IDXChannel - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mulai menggelontorkan dana jumbo senilai USD12 miliar atau setara Rp202 triliun ke berbagai sektor prioritas.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, penyaluran dana ini akan menyasar proyek strategis nasional, investasi langsung, hingga pasar publik. Sejumlah inisiatif bahkan telah berjalan dan akan diumumkan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
“Danantara sudah masuk fase deployment,” ujar Pandu, Kamis (22/1/2026).
Langkah ini menandai peran Danantara sebagai katalis utama investasi pemerintah, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah tantangan global.
Salah satu proyek unggulan adalah program waste-to-energy (WtE). Danantara dijadwalkan mengumumkan pemenang lelang tahap pertama pada pertengahan Februari 2026, dengan groundbreaking proyek ditargetkan berlangsung akhir Maret.
Tahap awal WtE akan difokuskan di empat kota, yakni Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta. Setiap fasilitas diperkirakan membutuhkan investasi Rp2,5-Rp3 triliun. Setelah tahap pertama rampung, Danantara akan melanjutkan lelang tahap kedua yang menyasar enam kota atau kabupaten tambahan.
Di sektor industri, Danantara menyiapkan pendanaan USD6 miliar atau sekitar Rp101 triliun untuk membentuk BUMN baru di sektor tekstil. Dana ini akan difungsikan sebagai insentif dan pembiayaan guna meredam tekanan tarif global serta persaingan internasional yang kian ketat.
Tak hanya itu, Danantara juga mengalokasikan USD1,2 miliar atau sekitar Rp20 triliun untuk membangun 12 pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi. Proyek ini ditujukan untuk menstabilkan harga day old chick (DOC) yang kerap bergejolak dan berdampak ke inflasi pangan.
Di sektor properti dan layanan haji, Danantara telah menandatangani kesepakatan akuisisi Hotel Novotel berkapasitas 1.461 kamar serta lahan seluas 4,4 hektare di Thakher City, Makkah. Kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi Kampung Haji terpadu bagi jamaah Indonesia.
Nilai pembelian lahan diperkirakan mencapai USD1 miliar, sementara akuisisi hotel ditaksir USD500 juta. Danantara juga menyiapkan tambahan investasi USD800 juta pada kuartal IV-2026 untuk pengembangan kawasan tersebut.
Sementara di sektor hilirisasi, Danantara menyiapkan proyek strategis senilai total USD6 miliar. Proyek ini mencakup pengembangan smelter aluminium dan alumina, fasilitas produksi bioavtur, pengolahan kelapa terintegrasi, hingga bioetanol.
Restrukturisasi BUMN dan Strategi PendanaanSelain ekspansi investasi, Danantara juga menggodok restrukturisasi besar-besaran BUMN dengan target memangkas jumlah entitas dari sekitar 1.000 menjadi 200 perusahaan. Salah satu agenda utama adalah merger BUMN Karya yang ditargetkan rampung pada kuartal I-2026.
Ke depan, Danantara akan lebih selektif dalam menyuntikkan modal penyelamatan BUMN dan mengalihkan fokus ke investasi yang menciptakan nilai tambah jangka panjang.
Untuk mendukung pendanaan, Danantara berencana menerbitkan kembali patriot bond senilai USD1,2 miliar pada semester I-2026, serta membuka opsi penerbitan obligasi global. Hingga kini, Danantara juga telah mengantongi dividen dari BUMN sekitar USD5 miliar atau Rp84 triliun.
Stockbit pada Jumat (23/1/2026) menilai masuknya fase investasi Danantara akan menjadi pendorong signifikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai 2026.
Bank Dunia bahkan telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027 masing-masing menjadi 5 persen dan 5,2 persen, salah satunya ditopang oleh lonjakan investasi pemerintah melalui Danantara.
Sejalan dengan itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani meyakini arus penanaman modal asing dan domestik akan terus meningkat karena investor kini memiliki mitra strategis dalam menggarap proyek berskala besar.
(DESI ANGRIANI)




