jpnn.com, JAKARTA - Inovasi digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia merawat dan mempelajari bahasanya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang kini tersedia dalam bentuk daring (online) dan aplikasi mobile, telah mencatatkan pencapaian luar biasa dengan lebih dari 300 juta kali pencarian hingga Juni 2025.
BACA JUGA: KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru, Apa Saja? Cek Link Ini
"Angka ini membuktikan bahwa upaya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam mendigitalkan kamus utama negara itu berhasil menjawab kebutuhan zaman," kata Kepala Badan Bahasa, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin dalam taklimat media di kantor Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Jumat (23/1).
Dia menegaskan, KBBI Daring, yang diluncurkan pertama kali pada 2016, bukan sekadar alih media dari versi cetak.
BACA JUGA: Badan Bahasa Tambahkan Pandemi Sebagai Koleksi Kata Terpopuler di KBBI
Inovasinya terletak pada sistem pencarian real-time yang terintegrasi dengan informasi lengkap.
Pengguna tidak hanya mendapatkan definisi, tetapi juga etimologi (asal-usul kata), pelafalan audio, serta label ragam bahasa (seperti cakapan, arkais, atau ilmiah).
BACA JUGA: Jokowi Bantah Najwa Shihab Beda Mudik dengan Pulang Kampung, Yuk Cek KBBI
"Fitur ini membantu pemahaman konteks penggunaan kata secara komprehensif," kata Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa, Dora Amalia.
Salah satu contoh inovasi kontekstual adalah entri untuk kata 'pansos' (panjat sosial).
KBBI tidak hanya mendefinisikannya, tetapi juga memberi label penggunaan dalam konteks media sosial dan interaksi sosial kontemporer.
"Ini menunjukkan KBBI hidup dan merespons perkembangan masyarakat," ungkapnya.
Inovasi lain yang signifikan adalah transformasi KBBI dari produk pasif menjadi platform partisipatif.
Masyarakat kini dapat mengusulkan entri baru atau perbaikan definisi melalui mekanisme yang tersedia.
Usulan tersebut kemudian melalui proses kurasi ketat oleh tim editor, redaktor, dan validator sebelum akhirnya ditambahkan.
Kolaborasi publik-institusi ini memastikan KBBI terus berkembang dinamis, menyerap kosakata baru seperti gawai, swafoto, atau luring.
Perjalanan panjang KBBI menuju era digital itu berawal dari penyusunannya yang dimulai pada 1974.
Versi pertamanya terbit pada 1988 dengan 62 ribu entri. Kini, setelah melalui pembaruan berkala, KBBI telah mencatat lebih dari 112 ribu entri dalam edisi daringnya, menggambarkan pesatnya pertumbuhan kosakata bahasa Indonesia.
"Fungsi KBBI daring sangat vital, terutama dalam memperkenalkan dan mengukuhkan kata baku. Misalnya, banyak yang masih bingung antara 'analisis' (baku) dan 'analisa' (tidak baku). KBBI daring dengan mudah memberi jawaban dan contoh penggunaannya, membantu penulis, pelajar, dan profesional," ujar Dora Amalia.
Lebih lanjut dikatakan kadan Bahasa, kehadiran KBBI daring juga menjembatani tradisi leksikografi dengan tuntutan modernitas.
Dengan akses yang mudah, cepat, dan interaktif, kamus ini tidak lagi berada di rak buku yang berdebu, tetapi berada di genggaman tangan ratusan juta orang.
"Inovasi ini memastikan bahasa Indonesia tidak hanya terjaga kemurnian dan kaidahnya, tetapi juga tetap relevan, hidup, dan terus bertumbuh di tengah arus globalisasi dan revolusi digital. Jadi, kita harus menjaga muruah bahasa Indonesia, karena itu merupakan wajah bangsa," pungkas Hafidz Muksin. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Masuk Pencarian Terpopuler 2019, Kata Milenial Masuk KBBI
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad



:strip_icc()/kly-media-production/medias/682980/original/ilustrasi%20kerusuhan%202.jpg)
