Harga Bitcoin Terus Tertekan, Apa Penyebabnya?

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Harga Bitcoin (BTC) masih terus tertekan. Berdasarkan data Coinmarketcap, nilai aset Bitcoin ini masih mencatat penurunan tajam dalam 24 jam terakhir.

Terpantau, harga Bitcoin anjlok di bawah US$ 90 ribu atau Rp 1,52 miliar. Pada hari ini Bitcoin berada di level US$ 89.109 per koin atau setara Rp 1,506 miliar (kurs JISDOR Rp 16.902 per dolar AS).

Bahkan kapitalisasi pasar Bitcoin global berdasarkan data Coinmarketcap juga anjlok 0,41% menjadi US$ 1,78 triliun atau setara Rp 30.085,56 triliun.

Tak hanya Bitcoin, Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan 20 aser kripto terbesar di pasar juga anjlok 6,81% dalam sepekan terakhir. Tercatat seperti Ethereum (ETH) yang saat ini berada di level US$ 2.967 atau setara Rp 50,15, 1,62% dibandingkan hari sebelumnya.

Sementara Solana (SOL) juga pergerakannya terpangkas 1,19% ke level US$ 128,53 atau setara Rp 2,17 juta. Lalu XRP juga terkoreksi 2,07% di level US$ 1,91 atau setara Rp 32.282.

Mengutip Coindesk, Bitcoin mampu bergerak positif sepanjang tahun lalu. Namun pergerakan ini tetap di bawah level US$ 89.000 atau setara Rp 1,50 miliar.

Namun Manajer Aset Ark Invest menyatakan peran Bitcoin saat ini semakin meningkat sebagai kelas aset institusional baru. Di tingkat global, dana yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat dan perusahaan publik meningkatkan kepemilikan Bitcoin gabungan di sekitar 12% pada 2025

Penyebab Anjloknya Bitcoin

Mengutip Tech Stock, anjloknya level Bitcoin saat ini karena para investor tengah berhati-hati setelah arus keluar besar-besaran dari bursa Bitcoin spot yang terdaftar di AS. Hal ini membuat Bitcoin terlihat sebagai aset teknologi berisiko daripada aset aman.

Kondisi makro ekonomi secara global juga makin mempengaruhi. Aksi jual obligasi Pemerintah Jepang minggu ini meningkatkan biaya pinjaman dan mengguncang suku bunga global.

Selain itu, perubahan pembicaraan tentang Greenland juga memberikan dampak tersendiri terhadap ekonomi global. Hal ini juga mempengaruhi keputusan investasi di aset kripto. Begitu juga dengan tarif dagang AS yang memicu ketidakpastian baru bagi aset berisiko.

Beberapa analis menyatakan pergerakan harga Bitcoin saat ini mencerminkan adanya peningkatan selera risiko yang lebih luas. Namun para investor tetap berhati-hati dalam kondisi global saat ini.

Ekspektasi seputar suku bunga AS juga mempengaruhi investor Bitcoin. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS memperkuat Bank Sentral AS bank untuk tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Januari 2026.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bahlil Laporkan Realisasi Anggaran ESDM Capai Rp 13,19 Triliun di 2025
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Nyawa Jemaah Lebih Berharga dari Antrean, MUI Ingatkan Pemerintah Tak Paksakan Tambah Kuota Haji
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Eks Menpora Dito Ariotedjo Pastikan akan Penuhi Panggilan KPK Hari Ini
• 12 jam lalusuara.com
thumb
PBJ Pemprov Sulsel Diakui LKPP RI Sangat Baik, Gubernur Sudirman Ungkap Ini
• 12 jam lalufajar.co.id
thumb
Dedi Mulyadi Bantah Gaji PPPK Jabar Belum Dibayar karena Kas Kosong
• 12 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.