Jakarta (ANTARA) - Founder & CEO PT Amartha Financial Group (Amartha) Andi Taufan Garuda Putra menyatakan 60 persen dari 3,7 juta mitra UMKM yang mendapatkan penyaluran modal usaha dari pihaknya berasal dari luar wilayah Jawa.
Ia menuturkan dalam “Media Gathering: Digital untuk Desa, Potensi Fintech Dorong Ekonomi” di Jakarta, Jumat, bahwa perseroan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp37 triliun sejak 2010 hingga 2025 kepada para pelaku UMKM yang tersebar di 50 ribu desa di seluruh Indonesia tersebut.
Nasabah platform fintech lending tersebut tercatat berasal dari berbagai sektor usaha, di antaranya sektor perdagangan (53 persen), sektor pertanian (23 persen), sektor peternakan (9 persen), sektor jasa (6 persen), serta sektor industri rumah tangga dan lainnya (7 persen).
Ia mengatakan, diversifikasi portofolio pembiayaan di berbagai sektor usaha tersebut juga mencerminkan upaya perseroan untuk menjaga tata kelola dan manajemen risiko dengan baik.
Terkait kinerja perusahaan sepanjang 2025, Taufan menyampaikan pihaknya menyalurkan pembiayaan senilai Rp13,2 triliun.
“Pertumbuhan Amartha di tahun lalu secara year-on-year (yoy) double digit (dua digit), 20 persen plus, dan secara NPL (Non-Performing Loan/kredit macet) terjaga di sekitar 4 persen,” ujarnya.
Ia menyatakan, pertumbuhan tersebut berkat inovasi perusahaan yang tidak hanya berfokus pada penyaluran modal kerja, tapi juga memperluas jangkauan layanan financial technology (fintech) melalui aplikasi AmarthaFin yang telah memiliki lebih dari 1 juta pengguna pada tahun lalu.
Selain itu, perseroan juga mengembangkan layanan Payment Point Online Bank (PPOB) melalui AmarthaLink yang telah menjangkau 50 ribu mitra, produk investasi mikro yang diikuti oleh 130 ribu mitra, serta fasilitas penyaluran zakat sebagai upaya meningkatkan inklusivitas ekosistem keuangan Amartha.
Pengembangan berbagai produk dan layanan keuangan tersebut didesain berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh UMKM akar rumput, terutama di wilayah perdesaan.
“Kombinasi pemahaman market (pasar), produk yang relevan, tata kelola, dan partnership (kemitraan) dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan,” ucap Andi Taufan Garuda Putra.
Baca juga: Amartha salurkan beasiswa Rp10 miliar bagi pelajar di daerah
Baca juga: Ekonom: Pembiayaan ultramikro perlu didorong demi entaskan kemiskinan
Ia menuturkan dalam “Media Gathering: Digital untuk Desa, Potensi Fintech Dorong Ekonomi” di Jakarta, Jumat, bahwa perseroan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp37 triliun sejak 2010 hingga 2025 kepada para pelaku UMKM yang tersebar di 50 ribu desa di seluruh Indonesia tersebut.
Nasabah platform fintech lending tersebut tercatat berasal dari berbagai sektor usaha, di antaranya sektor perdagangan (53 persen), sektor pertanian (23 persen), sektor peternakan (9 persen), sektor jasa (6 persen), serta sektor industri rumah tangga dan lainnya (7 persen).
Ia mengatakan, diversifikasi portofolio pembiayaan di berbagai sektor usaha tersebut juga mencerminkan upaya perseroan untuk menjaga tata kelola dan manajemen risiko dengan baik.
Terkait kinerja perusahaan sepanjang 2025, Taufan menyampaikan pihaknya menyalurkan pembiayaan senilai Rp13,2 triliun.
“Pertumbuhan Amartha di tahun lalu secara year-on-year (yoy) double digit (dua digit), 20 persen plus, dan secara NPL (Non-Performing Loan/kredit macet) terjaga di sekitar 4 persen,” ujarnya.
Ia menyatakan, pertumbuhan tersebut berkat inovasi perusahaan yang tidak hanya berfokus pada penyaluran modal kerja, tapi juga memperluas jangkauan layanan financial technology (fintech) melalui aplikasi AmarthaFin yang telah memiliki lebih dari 1 juta pengguna pada tahun lalu.
Selain itu, perseroan juga mengembangkan layanan Payment Point Online Bank (PPOB) melalui AmarthaLink yang telah menjangkau 50 ribu mitra, produk investasi mikro yang diikuti oleh 130 ribu mitra, serta fasilitas penyaluran zakat sebagai upaya meningkatkan inklusivitas ekosistem keuangan Amartha.
Pengembangan berbagai produk dan layanan keuangan tersebut didesain berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh UMKM akar rumput, terutama di wilayah perdesaan.
“Kombinasi pemahaman market (pasar), produk yang relevan, tata kelola, dan partnership (kemitraan) dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan,” ucap Andi Taufan Garuda Putra.
Baca juga: Amartha salurkan beasiswa Rp10 miliar bagi pelajar di daerah
Baca juga: Ekonom: Pembiayaan ultramikro perlu didorong demi entaskan kemiskinan




