Indonesia Menjadi Fokus ManageEngine, Raksasa TI India

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Dari lebih 50 negara yang pernah dikunjunginya, Vice President of Revenue Operations ManageEngine Arun Kumar paling terkesan dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Ia terkejut dengan perkembangan pesat Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait infrastruktur. Pertumbuhan itu juga tecermin dalam laju adopsi ekonomi digital di Indonesia.

ManageEngine adalah divisi manajemen teknologi informasi (IT) dari Zoho Corporation, raksasa teknologi global asal India. ManageEngine memiliki lebih dari 90.000 klien, mayoritas korporasi, dari 190 negara di seluruh dunia. Perusahaan yang telah menelurkan lebih dari 60 produk dan perangkat ini kini menjadikan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebagai salah satu fokus untuk ekspansi.

”Ini (Indonesia dan ASEAN), seperti halnya di India, Amerika Latin, dan Timur Tengah, adalah kawasan yang mendapatkan dorongan besar dalam hal transformasi digital. Hal itu juga tecermin dalam pertumbuhan (bisnis) kami. Ini kawasan dengan pertumbuhan pasar (bisnis) yang luar biasa besar, melampaui yang terjadi di negara maju, seperti Amerika Serikat,” tutur Kumar dalam wawancara di kantor pusat Zoho-ManageEngine di Chennai, India, Kamis (22/1/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan pesat itu turut didorong komitmen pemerintah di masing-masing negara di ASEAN, termasuk Indonesia, dalam meningkatkan infrastruktur teknologi informasi, seperti perluasan jaringan fiber optik dan perluasan cakupan 5G. Namun, di sisi lain, ancaman dan kasus serangan siber, seperti ransomware, kian meningkat, terutama menyasar korporasi besar dan institusi strategis.

Baca JugaDigitalisasi Percepat Pemulihan Ekonomi

Kondisi tersebut memacu peningkatan pertumbuhan jumlah klien ManageEngine di ASEAN, tidak terkecuali di Indonesia. ”Pada 2004, dua tahun setelah ManageEngine diluncurkan secara global, jumlah klien di kawasan ini hanya tujuh. Kini, jumlah pelanggan kami mencapai lebih dari 7.500 di seluruh pasar ASEAN,” ujar Kumar yang menaruh perhatian besar pada kawasan Asia Tenggara.

Ia menjelaskan, pertumbuhan klien atau pelanggan di ASEAN adalah salah satu yang tertinggi di dunia, selain di India, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Mesir. Di ASEAN, pertumbuhannya mencapai 25 persen year on year. Pasar ASEAN pun kini mencakup 10 persen dari keseluruhan pendapatan ManageEngine secara global.

Fakta Singkat

Zoho Corporation, induk dari ManageEngine, didirikan Sridhar Vembu dan Tony Thomas pada 1996 di New Jersey, Amerika Serikat, dengan nama awal AdventNet. Zoho Corp dikenal sebagai salah satu korporasi bootstrap teknologi tersukses di dunia. Tanpa sepeser pun modal ventura, Zoho Corp kini bernilai 12,5 miliar dolar AS.

Persentase itu diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. ”Pertumbuhannya sangat pesat dan organik. Angka retensi (loyalitas klien) mencapai 85 persen, di atas rerata industri ini (layanan manajemen TI),” ujar Kumar.

Khusus di Indonesia, pertumbuhan profit mencapai 22 persen. Indonesia masuk empat besar di ASEAN. Saat ini, sedikitnya ada 446 klien ManageEngine di Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu, antara lain, adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia, PLN, PT Djarum, PT BCA Finance, dan Otoritas Jasa Keuangan.

”Bagi kami, Indonesia dan seluruh (negara) ASEAN adalah area fokus kami saat ini. Maka, Arun dan timnya punya mandat untuk mengembangkan bisnis kami di area ini. Mereka fokus di area ini. Maka, kami membangun tim yang besar, merekrut orang lokal yang bisa berbahasa lokal. Beberapa tahun lalu, jumlah (karyawan ManageEngine) di area ini nol. Sekarang, cukup banyak,” ujar CEO ManageEngine Rajesh Ganesan dalam wawancara terpisah di India.

Indonesia menjadi negara kedua di ASEAN, yaitu setelah Singapura, yang memiliki kantor dan tenaga lokal ManageEngine. ”Tim (lokal) dipersiapkan sejak 2020, kantor mulai beroperasi pada 2023. Saat ini, ada 24 orang (karyawan di Indonesia), termasuk Zoho. Secara bisnis, ManageEngine kini terus meningkat di Indonesia, terutama dengan adanya kantor lokal,” ungkap Technical Manager ManageEngine Indonesia Hanief Bastian.

Pusat data di ASEAN

Berbeda dengan raksasa teknologi informasi lainnya, seperti Google, Zoho ataupun ManageEngine sangatlah menjaga privasi dan kerahasiaan data pengguna. Maka, potensi penyalahgunaan data, termasuk dari pihak ketiga, pun sangat minimal.

”Data menjadi milik pelanggan. Kami tidak pernah dan tidak akan menghasilkan uang dari data. Kami menyingkirkan pelacak (data) Google dan tidak membukanya ke pihak ketiga. Ini adalah hal prinsip bagi kami,” ujar Ganesan kemudian.

Untuk meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi lokal sekaligus meningkatkan layanan cloud, ManageEngine juga berencana mendirikan pusat data di kawasan ASEAN pada tahun ini. Total saat ini terdapat 20 pusat data ManageEngine yang tersebar di berbagai belahan dunia, seperti Amerika Serikat, Eropa, India, Jepang, lalu terakhir di Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirat Arab).

Baca JugaPusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan

Namun, baik Ganesan maupun Kumar masih merahasiakan lokasi pusat data baru di Asia Tenggara itu. ”Itu (pusat data di ASEAN) menjadi bagian dari komitmen kami untuk mendekatkan layanan ke lokal dan turut mengembangkan ekosistem digital di negara yang kami tuju,” ujar Kumar mengenai investasi terbaru ManageEngine di kawasan ASEAN.

Seperti yang dilakukan di India dan sejumlah negara lainnya, ManageEngine juga bertekad untuk terus berkontribusi pada komunitas lokal dan membantu akselerasi pertumbuhan ekonomi digital, termasuk di Indonesia. Tekad itu, antara lain, diwujudkan melalui pengembangan talenta lokal lewat pelatihan dan workshop yang melibatkan praktisi dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

”Kami tak ingin hanya menjual produk dan pergi. Kami juga ingin membangun talenta lokal untuk masa depan. Kegiatan seperti workshop, seminar, akan rutin kami lakukan,” tutur Kumar kemudian.

Hanief menambahkan, pihaknya tidak hanya menyasar korporasi besar di Indonesia, tetapi juga melayani usaha kecil dan menengah di Indonesia. ”Usaha kecil dan menengah mulai banyak yang memakai produk kami. Misal, (peranti lunak) endpoint management yang free license bisa mereka pakai, maksimal untuk 25 perangkat. Ini cukup untuk SME (UKM). Tinggal downdload dan mudah dipakai,” ucapnya.

Selain unified endpoint management (UEM), menurut Hanief, produk atau layanan ManageEngine yang paling sering dipakai di Indonesia, antara lain, adalah IT services management (ITSM), help desk system, dan security information and event management (SIEM). Mayoritas peranti lunak itu telah dilengkapi agen/fitur akal imitasi (AI), misalnya, untuk otomaisasi mendeteksi pola ancaman serangan siber.

Baca JugaAkal Imitasi Menginvasi Jagat Hiburan

Dengan produk atau layanan komperehensif ”360 derajat” di bidang manajemen, infrastruktur, serta keamanan TI, ManageEngine sering digadang-gadang sebagai alternatif, bahkan pesaing, sejumlah raksasa TI dunia, seperti Microsoft, Google, IBM, dan SolarWinds.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemulihan Lingkungan di Area Bekas Tambang Perlu Perhatian Khusus
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
BI Catat DPK Perbankan Tumbuh 10,4 Persen Jadi Rp9.467 Triliun
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
DPR Tegaskan Tujuan Indonesia di Dewan Perdamaian: Palestina Harus Merdeka
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Shayne Pattynama Resmi Gabung Persija Usai Dilepas Buriram United
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Banjir Masih Rendam 143 RT di Jakarta, Ini Rinciannya
• 22 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.