Terus Terbang! Harga Emas Cetak Rekor Lagi, Nyaris Sentuh US$5.000

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global kembali mencetak rekor tertinggi barunya di perdagangan pekan ini, ditopang oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah, dan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (23/1/2026) ditutup di posisi US$4.982,57 per troy ons. Harganya melonjak 0,94%. Dalam sepekan terakhir, emas sudah terbang 8,84% secara point-to-point.

Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sepanjang masa. Bahkan, kini emas sudah hampir menyentuh level psikologis US$5.000 per troy ons.

Harga emas yang kembali mencetak rekor tertinggi barunya terjadi karena didorong oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, dolar AS yang lebih lemah, dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.

"Ketegangan geopolitik, dolar yang umumnya lemah, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini, semuanya merupakan faktor yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tren de-dolarisasi makro dan masih memengaruhi permintaan (emas)," kata Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/1/2026).

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, di mana kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.

Namun, detail kesepakatan tersebut masih belum jelas dan Denmark bersikeras bahwa kedaulatannya atas pulau itu tidak dapat didiskusikan.

Ketegangan yang terjadi akibat huru-hara Venezuela hingga pencaplokan Greenland sudah terjadi sejak awal Januari lalu, tepatnya 6 Januari 2026. Ketegangan ini membuat para investor cenderung kembali melirik emas sebagai aset safe haven.

Saat emas kembali diburu, dolar AS pun tersungkur. Pada perdagangan kemarin, indeks dolar AS (DXY) anjlok 0,92% ke posisi 97,45. Dalam sepekan terakhir, dolar AS sudah ambruk 1,95%.

Dari segi data, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat pada November dan Oktober 2025, menunjukkan pertumbuhan yang kuat selama tiga kuartal berturut-turut.

Pasar mengantisipasi The Fed akan menerapkan dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini, meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

"Kemunduran jangka pendek akan dilihat sebagai peluang pembelian (emas). Kami telah melihat level US$5.000 per troy ons di dekatnya dan di luar itu proyeksi Fibonacci US$5.187,79 per troy ons terlihat masuk akal," tambah Grant.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fun Match M7 Carnival: Lawan KB, Jonathan Liandi Justru Berakhir Coklat!
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Soal Reposisi Polri, HAMI: Reformasi Jangan Salah Arah, Fokus Perkuat Saja
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mencekamnya Banjir Tangerang: Sirene Peringatan Berbunyi, Tanggul Angke Jebol
• 9 jam lalukompas.com
thumb
BNPB: Longsor di Cisarua Bandung Barat Dipicu Hujan Lebat
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Media Vietnam Sebut Timnas Indonesia Bakal Naturalisasi 3 Pemain Eropa
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.