Di bawah terik matahari di antara debu yang beterbangan, aktivitas ekonomi menggeliat pelan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (22/1/2026). Masyarakat penyintas bencana mencoba bangkit setelah dua bulan dilanda bencana hidrometeorologi yang meluluhlantakkan semua pilar kehidupan masyarakat.
Arus lalu lintas tersendat saat memasuki kawasan Kualasimpang yang merupakan pusat perdagangan di Aceh Tamiang. Di antara rumah toko yang sebagian besar masih tutup, sejumlah toko penjual bahan makanan, obat-obatan, pakaian, pulsa, minimarket, dan bahan bangunan mulai buka.
Masyarakat lainnya membuka lapak buah musiman, seperti durian dan duku, di pinggir jalan di antara tenda-tenda pengungsi yang berdiri di sepanjang Jalan Medan-Banda Aceh yang membelah kawasan perkotaan itu. Aktivitas ekonomi itu juga sudah ditopang layanan keuangan, seperti bank dan pegadaian, yang sudah mulai buka.
”Kami mulai membuka toko pulsa dalam beberapa hari ini sambil membersihkan ruko yang terendam lumpur. Kadang kami masih tutup kalau debu yang beterbangan terlalu pekat,” kata Egi Syahfandi (35), pedagang pulsa di Jalan Ir H Juanda itu.
Egi berjualan di tengah keterbatasan dan geliat ekonomi yang masih berjalan pelan. Dia menjual kartu SIM ponsel yang masih tersisa dan bisa diselamatkan. Di tengah terpaan debu, Egi berjualan mengenakan masker seperti para pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang melitas di jalan tersebut. Meski hasilnya masih jauh dibandingkan sebelum bencana, Egi bersyukur masih bisa mendapat hasil.
Penyintas lainnya juga tetap berupaya menggerakkan ekonomi keluarga meskipun tinggal di tenda pengungsian. Zulkifli (40), warga Desa Suka Jadi, Kecamatan Banda Mulia, menjajakan jasa perbaikan ponsel dari rumah ke rumah.
Zulkifli sangat terpukul akibat bencana banjir yang menghanyutkan rumah sekaligus tempat usaha dan semua alat kerjanya sebagai penyedia jasa servis dan perbaikan ponsel.
Zulkifli tak mau tinggal diam. Dia meminjam uang dari keluarga untuk membeli kembali alat-alat kerjanya. Setiap hari dia berangkat dari tenda pengungsian dan datang dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasa perbaikan ponsel yang rusak karena terendam banjir.
”Lumayan bisa mendapat uang untuk keluarga sekaligus membantu warga memperbaiki ponselnya. Sampai sekarang masih banyak ponsel yang rusak karena terendam banjir,” katanya.
Meski begitu, sebagian besar toko di Aceh Tamiang masih tampak tutup, khususnya toko-toko yang rusak dan barang-barangnya terendam lumpur. Para penyintas juga banyak yang belum bisa bekerja karena toko tempat dia bekerja belum buka.
Penyintas lainnya juga belum bisa beraktivitas karena alat kerjanya rusak, sebagaimana dialami oleh Anip (56). Anip bersama istri dan empat anaknya memenuhi kebutuhan dasar dari bantuan.
Anip beruntung mendapat giliran menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum di Kecamatan Karang Baru. Sudah dua bulan dia tinggal di tenda pengungsian.
Namun, dia belum bisa bekerja karena becak motor yang biasanya untuk mencari penumpang hanyut terbawa arus banjir bandang. Rumah dan semua harta bendanya juga ikut hanyut. ”Kami belum bisa melupakan saat banjir bandang melanda. Kami hanya bisa berlari menyelamatkan nyawa. Tidak ada harta yang bisa kami selamatkan kecuali baju yang menempel di badan,” katanya.
Selain memukul aktivitas ekonomi, bencana juga telah meluluhlantakkan kantor-kantor pemerintahan di Aceh Tamiang. Hingga kini, hampir semua kantor dinas pemerintahan belum bisa beroperasi. Kantor bupati juga masih beroperasi secara terbatas dan petugas masih membersihkan sisa-sisa dampak bencana.
Beberapa kantor masih tutup total, seperti kantor dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu. Lumpur masih menumpuk di halaman dan pintu kantor. Beberapa praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tampak membersihkan gedung sejumlah kantor pemerintahan. Kantor Polsek Kualasimpang juga belum beraktivitas.
Namun, sekolah-sekolah sudah mulai buka. Para siswa berangkat ke sekolah dengan menggunakan pakaian biasa karena seragam mereka hanyut terbawa lumpur. Selain sekolah, layanan dasar di rumah sakit umum daerah juga telah beroperasi secara terbatas.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, pemerintah melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana terus berupaya melakukan pemulihan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Saat ini, pemerintah berfokus membangun kembali huntara dan hunian tetap (huntap) untuk mengurangi masyarakat yang tinggal di tenda pengungsian. Pemerintah juga berfokus membangun kembali ekonomi masyarakat.
”Kita semua menjadi saksi betapa tidak mudahnya situasi yang harus kita hadapi. Kita terus tanggulangi agar kita bisa menuju masa depan yang lebih baik,” kata Agus saat meresmikan huntara di Aceh Tamiang.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, huntara itu berkapasitas 84 kamar. Mereka akan membangun total 1.200 kamar huntara di 12 lokasi. Pembangunan hunian layak menjadi salah satu transisi penting untuk membangkitkan kembali ekonomi masyarakat.
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan, ekonomi masyarakat mulai bangkit setelah lumpuh total akibat bencana banjir. Armia berharap pemulihan ekonomi di kawasan itu bisa dibantu pemerintah pusat, swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat.
Armia menyebut, ada sekitar 37.000 rumah yang rusak akibat banjir di Aceh Tamiang. Sekitar 20.000 di antaranya membutuhkan pembangunan hunian baru. Hingga saat ini, sudah ada 2.446 huntara yang dibangun.
Menjelang sore hari, suasana kelam pascabencana masih terasa kental di antara debu yang semakin pekat. Para penyintas keluar dari tenda-tenda yang panas. Penyintas lainnya membersihkan rumah dan barang-barang yang masih terendam lumpur.
Para pedagang membersihkan toko dan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Di tengah segala keterbatasan, warga Aceh Tamiang berupaya bangkit kembali dari bencana kelam yang meluluhlantakkan semua sendi kehidupan.




