Oleh : Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Usai menandatangani Piagam Dewan Perdamaian (Board of Peace - BoP) yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Presiden Prabowo menyampaikan optimismenya bahwa forum tersebut akan mendekatkan Palestina ke arah perdamaian.
Prabowo juga menyampaikan perkembangan positif di wilayah konflik Gaza dengan menyebut bahwa bantuan kemanusiaan sudah semakin banyak masuk ke wilayah Gaza.
Baca Juga
'Saatnya Bergerak Menyelamatkan Dunia dari Kegilaan Trump Sebelum Terlambat'
Trump Batal Serang Iran Besar-Besaran, Terungkap Ini 4 Penyebab Utamanya
Membaca Apa yang Terjadi di Iran dengan Akal Jernih, Bukan Nafsu dan Kebencian
Kita tentu harus bersyukur. Tidak ada satu pun nurani yang menolak makanan, obat, tenda, dan air bersih untuk mereka yang terluka dan kelaparan.
Setiap truk bantuan yang melintasi perbatasan Gaza adalah harapan hidup bagi keluarga yang kelaparan dan kehilangan segalanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, di balik rasa syukur itu, ada kegelisahan yang sulit diabaikan. Bukan kegelisahan kepada sosok tertentu, melainkan kekhawatiran terhadap cara negara ini membaca realitas konflik Palestina.
Sebab, ketika bantuan kemanusiaan mulai diperlakukan sebagai tanda bahwa perdamaian sedang mendekat, di situlah alarm moral seharusnya berbunyi.
Apakah kita, sebagai bangsa, sedang keliru memahami makna damai? Apakah kebijakan luar negeri Indonesia sedang bergerak ke arah yang terlalu dangkal dan simbolik?
Sejarah memberi pelajaran yang seharusnya membuat kita lebih berhati-hati. Pada 1993, ketika Perjanjian Oslo ditandatangani, dunia juga penuh optimisme.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)