Hubungan guru dan siswa yang baik dan berkualitas dapat mendukung keberhasilan peserta didik selama menjalani pendidikan di suatu sekolah. Namun dalam kondisi terbaik pun, membangun hubungan yang kuat dan aman dengan siswa, tidak sepenuhnya mudah, tetap menantang bagi guru.
Dalam masa perkembangan anak yang melalui tahapan jenjang pendidikan, peran guru yang mampu menghadirkan relasi yang baik dan profesional, sungguh membantu anak. Dari penelitian Gallup, siswa yang merasa guru mereka peduli kepada mereka akan 1,7 kali lebih mungkin untuk berprestasi.
Analisis terhadap 46 studi menemukan bahwa hubungan guru-siswa di mana siswa merasa benar-benar diperhatikan dikaitkan dengan peningkatan di hampir setiap aspek keberhasilan akademik.
Namun di Indonesia saat ini, hubungan guru-siswa tengah menghadapi sorotan yang kuat. Hal itu terutama ketika ada aspek kepentingan guru yang ingin mendidik siswa, namun justru sang guru menjadi korban kriminalisasi oleh siswa dan orangtua siswa, ditambah lagi ketidakadilan kebijakan dari pimpinan sekolah hingga pemerintah.
Kasus pengeroyokan sejumlah siswa terhadap seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, sempat viral di media sosial. Kasus itu bermula ketika Agus Sunaryo, guru tersebut, melintasi salah satu kelas saat berlangsung jam belajar, Selasa (13/1/2026).
Dari dalam kelas, ada siswa meneriakkan kata-kata yang dinilai tidak pantas kepada dirinya. Agus yang mengaku sudah sering menahan diri dirundung oleh siswa laki-laki di sekolah tersebut, tidak tinggal diam. Dia mendatangi kelas dan ketika mengusut, dia terpancing emosi saat menghadapi siswa yang dari bahasa tubuhnya dirasa menantang sang guru. Agus yang emosi lalu menamparnya sekali.
Kasus tersebut berujung dengan pengeroyokan sejumlah siswa kepada Agus. Dalam mediasi, Agus yang merupakan pengajar Bahasa Inggris, dipindahkan. Kasus ini kini bakal berlanjut secara hukum karena guru maupun siswa tidak puas dengan penyelesaian yang diberikan.
Peristiwa yang menimpa Agus, guru yang dikenal dekat dengan siswa sehingga jadi salah satu guru favorit, namun berujung dikeroyok, menimbulkan sorotan lain. Di media sosial, bermunculan pandangan dari sejumlah guru agar berhenti atau stop menjadi teman baik alias “bestie” siswa.
Dengan isi dan pesan yang hampir seragam, di media sosial berseliweran pesan berjudul Stop Mencoba Jadi “Bestie” Siswa. Di akun Facebook Syafruddin Daeng Guru Udhin mengatakan tulisan ini terinspirasi dari kasus pengeroyokan yang dialami guru Agus.
“Kasus pengeroyokan Pak Agus, guru SMK di Jambi, oleh siswanya sendiri benar-benar menampar wajah pendidikan kita. Kita marah? Pasti. Sedih? Tentu. Tapi mari kita bedah ini dengan kepala dingin. Ada satu sisi yang sering luput kita bicarakan: Bahaya laten ketika guru kehilangan ‘Jarak Profesional’ dengan siswa,” tulis Syafruddin.
Ia melanjutkan, banyak guru zaman now, terutama guru muda, terjebak dalam ambisi ingin menjadi "Guru Favorit" atau "Guru Asik". Guru berusaha masuk ke dunia mereka, tertawa bersama, bahkan memosisikan diri seperti teman sebaya alias bestie.
“Niatnya baik: membangun kedekatan emosional. Tapi, kasus Jambi dan banyak kasus lainnya mengajarkan kita bahwa kedekatan tanpa batasan adalah bom waktu,” katanya.
Hal senada muncul dari akun IG @pank.lulu dengan judul Jika Anda Pendidik, Stop Jadi "Besti" ke Siswa. “Wahai rekan sejawat, hentikan ambisi untuk selalu disukai siswa. Sudah saatnya kita kembali pada posisi yang semestinya: dihormati dan disegani,” tulisnya.
Ia melanjutkan, lebih baik guru dicap “kaku” namun aman dan bermartabat, daripada dielu-elukan “asik” tetapi perlahan kehilangan harga diri, bahkan sampai keselamatan fisik dipertaruhkan. “Jadilah guru yang ramah dalam sikap, tegas dalam batas, dan tak pernah bisa diinjak-injak,” katanya.
Niatnya baik: membangun kedekatan emosional. Tapi, kasus Jambi dan banyak kasus lainnya mengajarkan kita bahwa kedekatan tanpa batasan adalah bom waktu.
Dari studi yang dirilis Gallup tahun 2020, mengungkapkan betapa hubungan baik dengan guru/dosen, yang ditandai dengan adanya kepedulian dan perhatian guru/dosen terhadap keberadaan siswa secara pribadi, membantu peserta didik untuk merasa berarti. Namun kenyataannya, hanya sedikit peserta didik yang merasa guru/dosen peduli secara pribadi pada mereka.
Riset Gallup melibatkan 5.000 alumni perguruan tinggi dan universitas. Hasilnya, hanya 27 persen yang sangat setuju bahwa mereka memiliki seorang profesor yang "peduli pada mereka sebagai pribadi."
Sebuah survei tahun 2024 terhadap 1.100 mahasiswa perguruan tinggi dan universitas mengungkapkan bahwa 28 persen mahasiswa melaporkan merasa terisolasi, 23 persen melaporkan merasa "terpinggirkan," dan hampir dua pertiga mahasiswa merasa kesepian.
Wiwik Budiasih (58), guru SDN Pondok Kacang Barat 03, Kota Tangerang Selatan, Banten, mengakui guru saat ini punya tugas yang kompleks karena mengurusi anak-anak dari latar belakang keluarga yang berbeda.
“Jujur, sering kali pelatihan pemerintah hanya fokus bikin soal atau cara mengajar. Namun, kami para guru yang mendapat dukungan di komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan menemukan jiwa dan hati kami para guru terus diterangi, diajak bicara untuk terus mampu menjadi guru yang menginspirasi siswa,” kata Wiwik.
Dikutip dari tulisan berjudul “Teacher-Student Relationships Matter” di laman gse.harvard.edu, disebutkan guru yang efektif membangun hubungan yang autentik dan penuh perhatian dengan siswa mereka. Para pendidik dapat mempelajari keterampilan yang diperlukan untuk membangun hubungan yang kuat, secara tatap muka maupun daring.
Oleh karena itu, penting untuk menyediakan akses bagi guru mendapatkan konseling individual, lokakarya kelompok, dan pelatihan pendidik. Hal ini untuk dapat mengatasi jarak antara apa yang diharapkan dari seorang pendidik (membangun hubungan yang kuat dan aman dengan siswa, keluarga, dan rekan kerja) dengan tingkat dukungan sosial dan emosional yang sebenarnya diterima oleh para pendidik.
Konselor dan pendidik terlatih Megan Marcus mengatakan hanya satu hubungan dengan pengasuh sepanjang hidup seseorang sebenarnya dapat mengubah perkembangan otak, menyembuhkan trauma, dan meningkatkan pembelajaran. Para pendidik memiliki potensi untuk memanfaatkan kekuatan ini.
“Banyak yang melakukannya secara organik, melalui pembentukan hubungan yang aman secara alami. Tetapi kita dapat melakukan jauh lebih banyak jika para pendidik dibekali dengan keterampilan dan kesadaran diri untuk melakukan pekerjaan ini secara sistematis,” jelas Marcus.
Para guru memiliki potensi untuk memengaruhi kehidupan begitu banyak siswa di kelas mereka. Mendukung para guru dengan keterampilan yang mereka butuhkan dalam manajemen kelas dan manajemen stres sangat penting karena akan berdampak positif pada siswa mereka dalam jangka panjang.
Dari berbagai riset, para siswa merasa terbantu ketika mengetahui bahwa mereka memiliki seseorang yang membela dan mendukung mereka. Ketika siswa tidak memiliki hal itu di kelas, hal itu berdampak pada keberhasilan pendidikan, seperti pada tingkat ketidakhadiran lebih tinggi dan penyelesaian tugas yang lebih rendah.
Para siswa merasa tidak ingin terlibat jika mereka merasa tidak ada seorang pun di gedung sekolah yang peduli pada mereka. Ketika siswa merasa diperhatikan dan didukung di lingkungan sekolah, para siswa jauh lebih mungkin untuk tetap bersekolah dan menjadi bagian dari pengalaman belajar.
Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan ovi Poespita Candra mengatakan GSM ingin menciptakan ruang kesadaran kolektif agar para manusia di pendidikan ini mampu menemukan kebahagiaan dan potensi terbaiknya. Hal ini dilakukan dengan cara membagikan kebaikan dengan tulus, bukan karena paradigma materialistis, melainkan paradigma kemanusiaan.
” Guru yang hadir dengan cinta, jiwa, dan segenap kreativitasnya akan melihat anak-anak sebagai manusia yang perlu bahagia dan menjadi manusia seutuhnya,” katanya.




