Meta menghentikan akses pengguna berusia remaja terhadap fitur karakter kecerdasan buatan (AI characters) di seluruh aplikasinya.
Kebijakan ini menyusul persidangan terkait tuduhan perusahaan dinilai kurang melindungi anak-anak dari risiko eksploitasi seksual di platformnya. Sidang bakal digelar di New Mexico, Amerika Serikat.
Aplikasi yang dimiliki Meta meliputi platform media sosial Facebook, Instagram, WhatsApp, Messenger, dan Threads. Ada juga produk bisnis, seperti Meta Business Suite, Meta Ads Manager, dan Workplace.
Di sisi lain, Meta memastikan pengembangan fitur karakter AI tidak dihentikan selamanya. Rencananya Meta bakal menghadirkan pengalaman AI, yang diperbarui dengan perlindungan dan kontrol tambahan bagi orang tua.
Sebelumnya, Oktober 2025, meta sempat memperkenalkan pratinjau fitur kontrol orang tua untuk karakter AI. Fitur memungkinkan orang tua memantau topik perbincangan dan memblokir karakter tertentu. Orang tua juga diperbolehkan menonaktifkan interaksi remaja dengan karakter AI, sepenuhnya.
Namun Meta tidak meluncurkan fitur tersebut, dan memilih menonaktifkan akses karakter AI bagi remaja, sampai versi terbarunya siap dirilis.
Keputusan diambil setelah mendengar saran orang tua yang menginginkan kontrol yang lebih besar, termasuk transparansi interaksi anak dengan AI.
Melansir Antara, filter pengguna Meta akan mengacu tahun lahir yang terdaftar pada akun-akun di aplikasi. Termasuk akun yang mengeklaim orang dewasa, tapi terindikasi remaja melalui teknologi prediksi usia Meta.
Selain isu perlindungan remaja, perusahaan milik Mark Zuckerberg juga diduga menyebabkan kecanduan media sosial. Persidangan perkara akan menghadirkan Mark Zuckerberg sebagai saksi.
Karakter AI adalah chatbot berbasis kecerdasan buatan yang memiliki kepribadian, latar belakang, dan minat khusus. Chatbot ini memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan AI di aplikasi Meta, untuk kebutuhan hiburan, edukasi, atau teman diskusi.
Plus Minus AI bagi RemajaPenggunaan AI belakangan meluas ke berbagai sektor, misalnya pendidikan. Aplikasi pembelajaran berbasis AI mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing anak.
Tak hanya membantu anak, AI juga bisa membantu guru mengidentifikasi bagian mana yang perlu diberikan perhatian lebih. Ini mendorong efektifitas dan personalisasi pembelajaran.
Tapi penggunaan AI juga berkembang di media sosial, khususnya ke kehidupan remaja. Algoritma dirancang untuk memberikan berbagai konten atau fitur yang paling menarik bagi pengguna. Umumnya berdasarkan perilaku dan preferensi pengguna.
Pengaruh penggunaan AI bakal berdampak pada cara belajar dan bersosialisasi anak. Dampak signifikan juga bakal terlihat dari sisi kesehatan mental remaja.
Lamanya waktu di depan layar, karena banyaknya konten menarik, bakal berpotensi menimbulkan perasaan tekanan untuk selalu tampil sempurna. Remaja juga sulit lepas dari layar, mengurangi waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial, yang sebenarnya penting bagi anak. (ant/lea/iss)




