Kebohongan Bakar Diri Hoaks Terungkap, 25 Tahun Berlalu : Metode Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok Terus Meningkat

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Meskipun kebenaran di balik kebohongan “bakar diri di Lapangan Tiananmen” Beijing pada 23 Januari 2001 telah dibongkar dan diungkap oleh masyarakat internasional, penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong tak pernah berhenti hingga sekarang. 

Bahkan, metode penganiayaannya menjadi semakin kejam. Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mulai mengekspor penindasan ini ke luar negeri dalam bentuk “represi lintas negara”. Dua puluh lima tahun telah berlalu, kebohongan PKT telah runtuh, dan kebenaran kini semakin banyak diketahui oleh dunia. 

EtIndonesia. Pada  2002, film dokumenter False Fire yang diproduksi oleh New Tang Dynasty Television membongkar berbagai celah rekayasa dalam kasus “bakar diri” hoaks. PKT memilih bungkam dan tidak berani menanggapinya. Namun, penganiayaan terhadap Falun Gong justru terus meningkat dan bahkan meluas ke luar negeri. Insiden bakar diri palsu itu terjadi pada 23 Januari 2001.

“Kasus bakar diri Tiananmen hoaks dengan cepat terbongkar. Setelah konspirasi itu gagal, penganiayaan tetap berlanjut. PKT beralih dari penganiayaan terbuka ke penganiayaan secara tersembunyi. Namun, penganiayaan secara diam-diam ini justru sangat serius dan semakin parah,” kata Ketua World Organization to Investigate Persecution of Falun Gong (WOIPFG) atau Organisasi Internasional untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong, Wang Zhiyuan.

Sebelum rekayasa kasus palsu Tiananmen, sudah tak terhitung jumlah praktisi Falun Gong yang ditangkap secara ilegal karena mengungkap penganiayaan dan menyampaikan kebenaran. Mereka dimasukkan ke kamp kerja paksa dan mengalami penyiksaan brutal, dan banyak di antaranya menghilang tanpa jejak.

Menurut laporan situs Minghui, PKT telah menerapkan lebih dari seratus jenis penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong. Namun, metode paling kejam adalah pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong.

 “Pada awalnya, PKT memiliki tiga kebijakan terhadap Falun Gong, yang ketiga adalah ‘pemusnahan fisik’. Banyak orang mengira ini hanya retorika, mungkin hanya berarti kematian akibat penyiksaan di kamp kerja paksa atau penjara. Namun, berdasarkan bukti besar yang muncul kemudian, ‘pemusnahan fisik’ ini berarti pemusnahan besar-besaran terhadap para praktisi yang tetap teguh pada keyakinan mereka,” ujar Wang Zhiyuan.

“Ini mirip dengan genosida yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi pada Perang Dunia II. Pembantaian ini dilakukan secara terencana di seluruh negeri, dan metodenya adalah pengambilan organ hidup-hidup—sangat tidak berperikemanusiaan,” tambahnya. 

Orang-orang berkumpul di sebuah taman di Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk berlatih Falun Gong pada tahun 1998, sebelum penganiayaan. Courtesy of Minghui.org

Pada tahun 2006, kejahatan pengambilan organ hidup-hidup dari praktisi Falun Gong terungkap ke dunia internasional. Investigasi mendalam oleh WOIPFG menemukan bahwa pemerintah PKT, kepolisian, rumah sakit, dan penjara beroperasi secara terintegrasi dalam perdagangan organ praktisi Falun Gong, membentuk rantai industri pengambilan organ hidup-hidup berskala nasional.

“Para praktisi Falun Gong di Shenyang melakukan latihan kelima Falun Dafa.” ©The Epoch Times

Penyelidik WOIPFG bertanya:  “Bagaimana Anda memastikan bahwa donor tersebut adalah praktisi Falun Gong?”

Chen Qiang, kontak sumber ginjal di Departemen Transplantasi Rumah Sakit Militer 307 Beijing, menjawab:  “Bagaimana memastikan itu praktisi Falun Gong… nanti akan ada orang atasan kami yang memberikan data. Jangan khawatir. Terus terang saja, kami punya jalur resmi—di atas kami ada orang-orang berwenang.”

Selama bertahun-tahun, WOIPFG juga melakukan penyelidikan lewat telepon ke berbagai rumah sakit di Wuhan. Hasilnya menunjukkan bahwa pusat-pusat transplantasi di Wuhan memiliki volume transplantasi organ yang sangat besar, waktu tunggu yang sangat singkat, dan menggunakan praktisi Falun Gong sebagai sumber organ.

 “Sejak 2003 saya sudah memastikan bahwa PKT melakukan pengambilan organ hidup-hidup terhadap praktisi Falun Gong sebagai sebuah kelompok. Saat itu saya juga menelusuri situs Kementerian Kesehatan PKT sendiri. Dari awal hingga akhir, ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan—kejahatan ekstrim dengan target yang jelas untuk membantai suatu kelompok,” ujar Wakil Ketua Federasi Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue. 

Pada tahun 2006, Shen Yun Performing Arts didirikan. Selama 20 tahun terakhir, Shen Yun telah mengadakan lebih dari 7.400 pertunjukan di seluruh dunia, dengan total penonton lebih dari 11 juta orang, dan mendapat pujian luas dari kalangan elite budaya Timur dan Barat.

Namun, karena pertunjukan Shen Yun mengungkap kebenaran tentang penganiayaan PKT, kelompok ini menjadi target represi lintas negara oleh PKT. PKT melakukan berbagai upaya intimidasi, termasuk ancaman bom, perusakan ban bus Shen Yun, bahkan penembakan, tetapi semuanya gagal.

Pembawa acara Shen Yun, Lin Lishan (26 Maret 2025), mengatakan:  “Saya bergabung dengan Shen Yun sejak awal berdirinya pada akhir 2006. PKT terus berusaha menghalangi kami. Pada awalnya, cara paling umum adalah kedutaan dan konsulat PKT mengirim surat ke teater, menelepon, bahkan datang langsung untuk menuntut pembatalan pertunjukan.”

Dalam dua tahun terakhir, represi lintas negara PKT semakin dipimpin secara sistematis oleh Menteri Keamanan Negara PKT, Chen Yixin, melalui perang hukum dan perang opini media untuk memfitnah pendiri Falun Gong dan mencemarkan nama Shen Yun Performing Arts.

 “Ini bukan hanya menargetkan Falun Gong atau Shen Yun. Ini adalah strategi PKT untuk menggunakan institusi Amerika melawan Amerika sendiri. Jika mereka berhasil terhadap Shen Yun dan Falun Gong, mereka akan semakin berani melangkah lebih jauh,” ujar Direktur Falun Dafa Information Center, Levi Browde pada 26 Maret 2025. 

Represi lintas negara PKT yang berlandaskan “kepalsuan, kejahatan, dan perjuangan” tidak dapat menghentikan penyebaran nilai “Sejati, Baik, Sabar”. Saat ini, Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 140 negara dan wilayah di seluruh dunia.

 “PKT sedang berperang melawan keyakinan—ini adalah perang yang sudah ditakdirkan akan mereka kalah,” ujar Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback. 

Wang Zhiyuan menegaskan:  “Penganiayaan terhadap Falun Gong merupakan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Terutama pengambilan organ hidup-hidup, ini adalah kejahatan paling jahat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia.” 

“Siapa pun yang terlibat tidak akan bisa lolos dari pengadilan sejarah dan hukum pidana. Satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan penganiayaan, segera mengaku dan menjelaskan kejahatan kepada WOIPFG, mengungkap pelaku lain, dan berusaha menebus dosa dengan jasa. Ini satu-satunya jalan.”

Kilas Balik Bakar Diri Hoaks di Tiananmen 

Seminggu setelah Tahun Baru Imlek Tiongkok pada 31 Januari 2001, ketika jutaan orang di Tiongkok tengah menikmati tayangan televisi penyiar nasional China Central Television (CCTV), media negara melaporkan bahwa lima praktisi Falun Gong telah membakar diri di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 23 Januari tahun itu.

Namun, insiden tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut dan menghasilkan sebuah film dokumenter berjudul “False Fire”. Dokumenter ini meraih penghargaan kehormatan pada Festival Film Internasional Columbia ke-51 pada November 2003 karena berhasil mengungkap propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang bertujuan mendemonisasi sistem meditasi damai tersebut.

Pada tahun 2001, Partai Komunis Tiongkok (PKT) merekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen dalam upaya untuk membalikkan opini publik terhadap praktik Falun Gong yang damai. ©Tangkapan Layar Video | False Fire

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan kultivasi jiwa dan raga yang berakar pada tradisi Buddhis. Praktik ini terdiri dari lima rangkaian latihan meditasi dan berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Menurut perkiraan resmi, pada akhir 1990-an terdapat sekitar 70 juta hingga 100 juta orang yang mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok karena manfaat kesehatannya dan ajaran moralnya. Namun, pada Juli 1999, rezim Tiongkok melancarkan kampanye untuk menganiaya dan melarang praktik tersebut. Hingga kini, tak terhitung jumlah praktisi yang telah ditangkap, ditahan, disiksa, bahkan dibunuh untuk diambil organ tubuhnya.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan seorang individu yang mengalami luka bakar parah dalam dugaan insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Secara umum, warga Tiongkok yang mengenal Falun Gong sebagai praktik spiritual yang damai, bermoral, dan bermanfaat bagi kesehatan, bersikap simpatik terhadap Falun Gong. Namun, setelah PKT menyiarkan insiden bakar diri yang direkayasa tersebut, opini publik berubah secara drastis.

Rekayasa Aksi Bakar Diri di Lapangan Tiananmen 

Tak lama setelah rekaman dugaan aksi bakar diri itu ditayangkan, muncul berbagai bukti yang mengungkap bahwa peristiwa tersebut merupakan tipuan yang direkayasa secara menyesatkan oleh rezim Tiongkok.

Menanggapi pertanyaan mengenai mengapa ada kru kamera di lokasi kejadian, media Tiongkok mengklaim bahwa rekaman jarak dekat insiden itu berasal dari CNN—klaim yang kemudian dibantah oleh CNN. Eason Jordan, eksekutif kepala divisi berita CNN saat itu, mengatakan kepada The Washington Post bahwa rekaman yang digunakan dalam laporan televisi Tiongkok tidak mungkin berasal dari video CNN, karena “juru kamera kami ditangkap hampir seketika setelah insiden itu dimulai.”

Wartawan asing yang familiar dengan kondisi Lapangan Tiananmen menyatakan bahwa polisi biasanya tidak membawa alat pemadam kebakaran, dan gedung terdekat membutuhkan waktu pulang-pergi sekitar 20 menit. Namun, rekaman insiden tersebut menunjukkan bahwa polisi dapat dengan cepat memadamkan api menggunakan peralatan pemadam kebakaran.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan salah satu orang yang diduga melakukan aksi bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Bukti lain menunjukkan bahwa salah satu pelaku bakar diri, Wang Jindong, masih memiliki rambut utuh—padahal rambut adalah bagian tubuh yang paling cepat terbakar dalam peristiwa kebakaran. Selain itu, disebutkan bahwa Wang menggunakan botol plastik minuman Sprite berisi bensin untuk membakar diri, tetapi botol yang berada di antara kedua kakinya tetap utuh dan tidak meleleh.

Laporan The Washington Post pada 4 Februari 2001 mengungkapkan bahwa para tetangga dari Liu Chunling, yang disebut sebagai salah satu pelaku dan meninggal dunia dalam insiden tersebut, serta putrinya yang berusia 12 tahun, Liu Siying, yang meninggal beberapa minggu kemudian, menyatakan bahwa mereka tidak pernah melihat ibu maupun anak itu mempraktikkan Falun Gong.

Para tetangga itu juga menjelaskan bahwa perilaku Chunling, yang bekerja di sebuah klub malam, terbilang aneh: ia kerap memukul anaknya dan mengusir ibu kandungnya yang sudah lanjut usia. Perilaku tersebut bertentangan dengan ajaran Falun Gong yang menekankan peningkatan moral pribadi serta hidup berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Sementara itu, putrinya, Siying, yang diklaim telah menjalani trakeotomi setelah insiden tersebut, direkam sedang bernyanyi—sesuatu yang secara ilmiah hampir mustahil dilakukan dalam kondisi tersebut.

Laporan The Washington Post juga menyebutkan bahwa hanya media milik negara yang diizinkan mewawancarai para penyintas dan berinteraksi dengan keluarga mereka.

The Epoch Times juga melaporkan bahwa, menurut Sun Yanjun, seorang profesor madya psikologi di Capital Normal University Beijing pada saat itu, media negara Tiongkok mulai “meredam pemberitaan” setelah NTD (media saudara The Epoch Times dan bagian dari Epoch Media Group) menayangkan dokumenter “False Fire.”

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Selebgram Lula Lahfah Meninggal Dunia, Polisi Masih Selidiki Penyebabnya
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Lula Lahfah Meninggal Dunia di Apartemen Jaksel, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
AirAsia Hyrox Jakarta dan Kuala Lumpur Masuk Kalender Utama Hyrox 2026
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kecelakaan Gegara Puntung Rokok, Mahasiswa Uji Pasal UU LLAJ
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Banjir-Longsor Terjang Bandung Barat, 7 Meninggal dan Ratusan Hilang
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.